HeadLine

Friday, 30 March 2012

MENEPATI JANJI MENJAUHKAN KITA DARI KEMUNAFIKAN

Dalam pergaulan sehari-hari kita kerap menyatakan bahwa janji itu adalah hutang, hutang yang harus kita bayar (kerjakan), walau dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, apa yang sudah kita janjikan haruslah kita kerjakan sebagai bentuk pertanggungjawaban kita terhadap orang yang kita janjikan dan juga pertanggungjawaban kita terhadap Allah SWT. Bahkan dalam hablum minan nas, tolok ukur kepercayaan dan kepribadian seseorang dapat terlihat dari ketepatan dia melaksanakan janjinya. orang yang bisa dipercaya tidak mungkin dia sering melalaikan janjinya, dan sebaliknya, tidak mungkin orang bisa mendapatkan kepercayaan apabila dia sering melalaikan janjinya.

Allah SWT telah berfirman, Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya (QS Al-Isra’ ayat 34).

Semua janji yang telah kita ucapkan, hukumnya wajib untuk memenuhinya (mengerjakannya), karena semua itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya. pertanggung jawaban ini tidak hanya dari orang yang kita janjikan tetapi juga pertanggung jawaban dari oleh Allah SWT. Allah SWT sangat membenci orang-orang yang melalaikan janji-janjinya dan orang-orang yang mengatakan apa-apa tetapi tidak dikerjakannya. jika dalam kehidupan sekarang ini, orang-orang itu biasa disebut OMDO (omong doang).

Tuesday, 20 March 2012

Mentadzaburi suatu “Keberhasilan yang Tertunda”


Pagi itu aku buka pintu laboratorium Patologi serangga langsung aku menuju sekumpulan ulat yang beberapa hari sebelumnya diinfeksi dengan virus,,dan kudapapati kumpulan ulat itu mati..

ya mereka mati..
itu memang yang aku harapkan,,tapi bukan itu masalahnya,,yang menjadi masalah adalah penyebab kematiaanya,,bukan karena virus yang aku infeksi sebelumnya seperti harapanku..tapi dengan melihat gejala kematiannya dan akupun mencium bau tak sedap yang muncul, langsung dapat ditebak dia mati bukan karena virus yang aku infeksi,tapi karena penyebab lain dan pasti bau tak sedap itu berasal dari bakteri pengurainya..


kuambil mikroskop dan kulihat pecahan tubuh si ulat,,benar saja aku tak menemukan “tubuh inklusi” (bentuk polyhedral) dari virus yang aku infeksi,,yang terlihat hanya pola-pola tak beraturan..

ya,,bisa dibilang aku “gagal” di percobaan pertama untuk produksi virus pathogen hama..

kegagalan bagi sebagian orang adalah sesuatu yang sangat tidak diharapkan kedatangannya..
bahkan yang lebih extreem ada pula menganggap suatu kegagalan adalah akhir hidupnya..
atau menurut mukadimah dari salah satu postingan temanku, menerima kegagalan itu seperti menelan sebuah pil pahit..

tapi dengan sedikit usaha untuk bersabar dan berfikir positif aku mencoba untuk memaknai sebuah kegagalan itu seperti “kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya”..

Thursday, 15 March 2012

SEBUAH RENUNGAN (bagian 1)


Sebuah pesan yang patut kita renungkan,,yang aku rangkum dari pengantar kuliah umum di kampus IPB beberapa waktu lalu..

Teknologi di dunia telah berkembang begitu pesat,, berbagai macam alat bantu yang memudahkan kehudupan manusia pun telah banyak ditemukan dan dikembangkan,,bahkan di jaman yang serba maju ini berlibur ke ruang angkasa pun bukan menjadi sesuatu yang mustahil lagi,,semua itu tidak lain dan tidak bukan karena kemajuan teknologi.

Tapi ada bidang lain diluar Bidang Teknologi yang sebenarnya sangat terkait erat dengan hal tersebut, tetapi justru kita nyaris melupakannya yaitu bidang “PERTANIAN”..

Ya sebenarnya siapa yang tak kenal pertanian??

Sebuah bidang yang dikenal dengan “Bidang Agraria” ini lah yang menjadi pondasi dari semua bidang kelimuan di dunia ini..

Bagamana bisa??

Mari sama-sama kita renungkan,,jauh sebelum kata teknologi ini dikenal, tanpa disadari manusia sebenarnya telah mengenal yang namanya pertanian,,mulai dari ketidak-sengajaan ketika para manusia Primitif itu memakan makanan yang berasal dari hutan kemudian biji-bijian itu jatuh atau terbawa hingga di sekitar rumah (*tempat berlindung) mereka,,kemudaian tumbuh menjadi tumbuhan yang dapat mereka makan,,yang akhirnya mereka menyadari untuk mengembangkannya untuk memenuhi kebutuhan dasar yaitu Makan..dan setelah itu dikenal lah apa itu budidaya tanaman (bagian dari pertanian).

Tuesday, 13 March 2012

Fotografi Makro


Foto makro memang tidak sepopuler foto lainnya, seperti foto pemandangan, foto diri, keindahan alam, dlsb. Meski demikian, temen-temen tidak salah jika ingin mencoba memotret dengan sasaran objek-objek yang kecil. Hitung-hitung tambah pengalaman, begitu lho! Apalagi jika kalian telah menggunakan kamera digital, pasti semakin leluasa untuk berkreasi.

Membuat foto makro termasuk tidak mudah. Menurut pakar fotografi, Leonardi, kita harus mencari dengan cermat sasaran apa yang bisa menjadi menarik untuk difotomakrokan. Sudah barang tentu bukan benda-benda yang sekadar kecil bentuknya, karena adakalanya bagian tertentu dari suatu benda besar pun bila direkam secara makro, bisa menjadi objek yang menarik. 

Arti kata makro adalah besar. Namun dalam fotografi makro, yang dijadikan sasaran pemotretan adalah objek-objek yang sangat kecil. Maka walaupun sebagian besar lensa-lensa untuk tujuan memotret benda-benda kecil itu dinamakan lensa makro, Nikon memilih kebijaksanaan sendiri dengan menamakannya sebagai lensa mikro (mikro = kecil). Tetapi kedua-duanya sama-sama bertujuan untuk memotret benda-benda kecil, yang kemudian divisualisasikan menjadi jauh lebih besar dari pada ukuran aslinya. Ya di sinilah daya tarik yang bisa kita ciptakan, kita visualisasikan, karena objek-objek yang tampil bukanlah sesuatu yang bisa disaksikan orang setiap hari.

Secara umum yang dikategorikan sebagai lensa makro atau lensa mikro adalah jenis lensa yang mampu merekam/memotret sasaran (pada film) sama besar dengan benda aslinya, disebut berasio 1:1; atau paling tidak separuh besar benda aslinya, atau dengan rasio 1:2. Kini banyak lensa-lensa vario yang disebut berfasilitas makro dengan rasio 1:4, sebenarnya dengan rasio seperti itu, resminya belum termasuk lensa makro.

Namun untuk menghasilkan foto makro, sebenarnya tidak mutlak harus menggunakan lensa makro yang harganya cukup tinggi, yakni jutaan lebih, karena jenis lensa-lensa biasa pun dengan ditambah berbagai aksesoris, bisa menjangkau rasio seperti lensa makro. Misalnya dengan tambahan konverter tele2X dan lensa close up +4 pada lensa normal 50 mm, sudah akan menghasilkan rasio sekitar 1:2, bila lensa close-up-nya +5 sudah mendekati rasio 1:1. Perangkat lain adalah reverse ring, gelang pembalik ini berperan untuk memasang lensa dengan arah terbalik. Bagian depan mengarah pada bodi kamera, sedangkan bagian belakangnya menghadap ke depan. Dengan gelang pembalik ini, segala jenis lensa berubah fungsi menjadi lensa makro "gadungan" dengan rasio sekitar 1:1, dan ini merupakan sarana termurah, karena harga gelang tidak terlalu mahal. Atau Anda pun bisa menganut cara klasik dengan menggunakan extension tubes, yang sekarang bisa digantikan dengan extension bellows. 

Sunday, 4 March 2012

Budidaya Padi dengan Metode SRI: System of Rice Intensification untuk Pertanian yang Berkelanjutan

Reviw Kuliah Umum Proteksi Tanaman

Gedung Kuliah-A dept. Proteksi Tanaman Faperta IPB,
Sabtu 3 Maret 2012
Bersama Dr. Ir. Widodo, M.Si








Assalamualikum wr wb
"hei anak-anak pertanian ada yang kenal SRI??"
"SRI??..ibu-ibu yang jaga kantin ya??"
"gubraks,,bukan itu tapi System of Rice Intensification,,yaitu salah satu teknik budidaya padi yang menggunakan prinsip LEISA (apan lagi tuh..???),, Low External Input Sustainable Agriculture,,walah-walah opo maneh kuwi??

LEISA itu prinsipnya meminimalkan input produksi (padi) dariluar seperti pupuk organik,pestisida,dan bahan bahan tambahan lain dan mengoptimalkan input dari dalam,,dengan prinsip memutar hara.

di awal kuliah umum pembicara mejelaskan mengenai segala macam bentuk siklus hara yang menggambarkan bahwa segala sesuatu yang dibutuhkan oleh suatu tanaman untuk tumbuh telah tersedia di alam, hanya saja masih kurang di eksplor lebih jauh lagi dan saat ini banyak petani yang masih sangat tergantung pada input dari luar, seperti pupuk kimia sintetis, pestisida sintetik dan lain sebagainya.

Budidaya padi organik metode SRI mengutamakan potensi lokal dan disebut pertanian ramah lingkungan, akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya. Metode SRI ini pada dasarnya adalah turunan dari Pertanian organik pada prinsipnya menitik beratkan prinsip daur ulang hara melalui panen dengan cara mengembalikan sebagian biomasa ke dalam tanah, dan konservasi air, mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional.

SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50% , bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%. Sebagaimana di contohkan oleh Dr Widodo bahwa petani zaman dahulu sangat sedikit menafaatkan input dari luar segala kebutuhan dipenuhi senderi termasuk pupuk, zaman dahulu selain punya tanaman baik padi maupun sayuran pasti juga punya Ternak, beliupun mengutip suatu statement yang sangat menarik..

Saturday, 3 March 2012

Menikmati Indahnya Alam Cibodas (part2)

 Curug Cibeureum - Cimory Resto

Setelah puas jalan-jalan di kebun raya Cibodas,,sekitar pukul 14.45 petualangan dilanjutkan kembali,,tujuannya kali ini adalah "Curug Cibeureum", yang terletak di antara jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango.

karena perut sedikit keroncongan kami Ichal berinisiatif untuk membeli bekal berupa Ubi panggang khas Cibodas..tapi lapar tak kunjung hilang akhirnya kami berempat pun memilih untuk singgah dan makan dulu di warung soto ayam..lumayan dingin-dingin makan soto anget,,emang paling Jooosss...
ubi pun akhirnya tidak jadi di habiskan dan disimpan untuk di bawa ke Curug Cibeureum.
dari kiri: saya, mas anto, gandha, ichal
mumpung masih terang kami foto-foto dulu di depan kantor pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango,,dengan bermodal timer akhirnya kami bisa foto berempat,karena sebelumnya kami foto ganti-gantian terus..

oke sekitar pukul 15.00 perjalanan pun dimulai.
sebelum masuk kami harus membeli tiket terlebih dahulu di gerbang masuk jarur pendakian Cibodas,,harga tiketnya tidak mahal hanya Rp.3000; saja,,di loket kami melihat ada foto Canopy Bridge atau jembatan kanopi antar pohon,,setelah kami tanyakan itu adalah fasilitas baru,,tapi belum dipublikasikan secara luas dan belum mulai dibuka untuk umum.

Friday, 2 March 2012

Menikmati Indahnya Alam Cibodas (part1)

Kebun Raya Cibodas


akhir bulan Januari lalu aku kedatangan seorang sahabat dari kota solo tercinta..
sebut saja namanya Gandha,dia sengaja menghabiskan waktu liburannya untuk main di kota Bogor ini..

untuk sekedar menjamu "tamu istimewa" dari kota solo ini, Ichal mengajak kami untuk jalan-jalan,,dan aku juga setuju-setuju aja..
kebetulan Gandha ingin sekali melihat bunga sakura akhirnya kami menentukan satu destinasi yaitu Kebun Raya Cibodas kerena sebagaimana kita ketahui KRC menyimpan salah satu koleksi unik yaitu Bunga Sakura.

kami berangkat pada hari Minggu 29 Januari 2012..
karena kendaraan yang terabatas akhirnya kami memutuskan untuk menyewa satu motor matic untuk mengantar kami ke Cibodas.
tidak cuma aku, Ichal, dan Gandha,,tapi kami juga mengajak Mas Anto,,sesepuh kami di The Village untuk turut serta main ke RC karena kebetulan pula beliau yang sudah pernah ke sana..


jadilah minggu pagi itu pukul 10.00 kami berangkat dari Darmaga menuju Cibodas..
sampai di Ciawi hujan mulai mngguyur,,tapi tidak menyurutkan niat kami,,berbekal Raincoat kami berempat menembus hujan untuk menuju Cibodas.
dan kabut pun makin tebal kala kami tiba di Puncak Pas sekitar RM.Rindu Alam,,dan dingin kian menusuk,,tapi untungnya hujan mulai reda dan matahari sedikit bersinar,,dan tepat pukul 12.00 kami tiba di kawasan Taman Nasiuonal Gunung Gede-Pangrango..
pintu gerbang kebun raya cibodas

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sahabat EPICENTRUM