HeadLine

Tuesday, 22 October 2013

Royal Wedding Keraton Yogyakarta

Siapa yang tidak kenal dengan kota Yogyakarta, atau masyarakat jawa sering menyebutnya dengan kata Ngayogjokarto Hadiningrat. Kota yang sarat dengan nilai budaya yang luhur serta satu-satunya propinsi di Indonesia yang mendapatkan gelar "istimewa". Bukan hanya karena kota ini memegang teguh budayanya tetapi juga kota ini penuh sejarah bagi negeri ini sehingga layak dan patut dijadikan daerah istimewa.


Dua hari ini Keraton Yogyakarta sedang mengadakan perhelatan akbar, yaitu Pernikahan Agung (Royal Wedding) putri Keraton. Pernikahan agung Keraton Yogyakarta kali ini antara Gusti Kanjeng Ratu Hayu dan Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro, yang merupakan pernikahan terakhir putri Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X. Karena itu, pernikahan ini digelar lebih megah, dengan jumlah tamu lebih banyak serta perayaan yang lebih meriah.

Kebetulan dua hari ini aku dapat ikut menyaksiakan perhelatan agung tersebut. Meski hanya lewat layar kaca, tapi suasana kemeriahan dan kesakralan Pernikahan Agung Keraton Yogyakarta ini begitu terasa. Yang ingin aku bagi disini adalah tentang bagaiman kota Jogja begitu memegang teguh yang namanya kebudayan luhur. Terlihat dari begitu panjangnya prosesi pernikahan putri terakhir dari Sri Sultan Hamengku Buwono X ini.

Sebagai bagian dari warisan budaya, beberapa prosesi adat dalam pernikahan ini dipertahankan. Prosesi pernikahan agung ini bahkan memiliki 12 tahapan. Bagaimana prosesnya, berlangsung? Berikut tahapan prosesinya yang sudah dilangsungkan sejak 13 Oktober 2013. 
Nyekar - Makam Panembahan Senopati (13 Oktober 2013)
Ini adalah sebuah tradisi mengunjungi makam-makam leluhur yang telah tiada. Leluhur dikirimkan doa agar diampuni segala dosa-dosanya, dan diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Nyantri - Bangsal Kasatriyan dan Sekar Kedhaton
(21 Oktober 2013 - Pukul 09.00)
Prosesi ini bertujuan untuk mengenalkan calon menantu kepada Kraton Yogyakarta. Calon menantu akan diajari bagaimana hidup sebagai bagian dari Kraton Yogyakarta. Melalui Nyantri, keseharian dan perilaku calon menantu juga akan dinilai.

Siraman - Bangsal Kasatriyan dan Sekar Kedhaton
(21 Oktober 2013 - Pukul 09.00)
Siraman dilakukan setelah upacara Nyantri. Calon pengantin dimandikan agar menjadi bersih dan murni, atau suci lahir dan batin. Calon mempelai wanita melakukan upacara siraman di Bangsal Sekar Kedhaton, sedangkan calon mempelai pria di Bangsal Kasatriyan.

Majang Pasareyan, Tarub, dan Bleketepe - Gedong Proboyekso, Pagelaran, Kuncung Tratag Bangsal Kencana (21 Oktober 2013 - Pukul 10.00)
Tarub terdiri atas pisang, tuwuhan (padi, kelapa, dan palawija), diletakkan di sekitar sudut keraton. Sedangkan Bleketepe adalah daun kelapa yang dianyam, dipasang di Kuncung Tratag Bangsal Kencana Wetan. Sementara itu, di luar sedang sibuk memasang Tarub dan Bleketepe. Pada waktu yang sama, ada prosesi Majang Pasareyan atau menghias kamar pengantin.

Tantingan - Bangsal Prabayeksa
(21 Oktober 2013 - Pukul 18.30)
Tantingan akan dilaksanakan malam hari setelah salat Isya. Dalam upacara ini, Sultan didampingi Permaisuri dan putri-putrinya, memastikan kesiapan calon mempelai wanita untuk menikah dengan calon yang sudah dipilihnya.

Midodareni - Bangsal Kasatriyan dan Sekar Kedhaton
(21 Oktober 2013 - Pukul 18.30)
Midodareni adalah malam lajang terakhir bagi kedua calon mempelai. Di sini, kedua calon akan ditemani oleh kerabat-kerabatnya. Midodareni berarti bidadari, calon mempelai wanita harus tidur setelah jam 12 malam untuk menanti datangnya bidadari. Mitosnya, kecantikan bidadari dianugerahkan kepada mempelai.

Akad Nikah - Masjid Panepen Kraton Yogyakarta
(22 Oktober 2013 - Pukul 07.00)
Prosesi akad nikah dilangsungkan di Masjid Panepen Kraton Yogyakarta, pukul 07.15 pagi kemarin. Ada yang spesial dalam akad nikah ini, karena kabul diucapkan dalam bahasa Jawa. Ini salah satu bentuk pemeliharaan nilai-nilai luhur budaya jawa.

“Kulo Abdi Dalem, Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro dinten meniko ngestoaken dhawuh timbalan dalem. Kadhaupaken kalayan putro dalem putri Gusti Kanjeng Ratu Hayu
kanthi mas kawin kitab suci Al-Quran lan perangkat sholat. Salajengipun, nyadhong berkah pangestu dalem, sembah nuwun,” ujar KPH Notonegoro.

sumber foto: disini
Usai mengucapkan itu, doa pernikahan pun diucapkan. Kemudian, dokumen ijab kabul ditandatangani oleh KPH Notonegoro dan para saksi. Setelah itu, barulah KPH Notonegoro sungkem kepada mertuanya, Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan lebih dulu melepas keris dari busananya.

Yang aku anggap istimewa adalah, pada akad nikah itu tidak mempertemukan mempelai wanita dan mempelai pria dalam satu lokasi. Sementara KPH Notonegoro bersalaman dengan Sultan Hamengkubuwono X sebagai wali, sedangkan GKR Hayu berada di Bangsal Kedhaton. Mereka baru dipertemukan dalam upacara berikutnya, meski teak lepas dari unsur kejawen tapi ada unsur syariat Islam yang kuat pada prosesi ini.

Panggih - Tratag Bangsal Kencana
(22 Oktober 2013 -  Pukul 10.00)
Upacara Panggih dilakukan setelah Akad Nikah. Pada prosesi ini, kedua mempelai dipertemukan untuk pertama kali setelah mereka resmi jadi suami istri.

Tampa Kaya dan Damar Klimah - Bangsal Kasatriyan
(22 Oktober 2013 - Pukul 12.00)
Tampa Kaya dan Damar Klimah menyusul upacara Panggih. Pada prosesi ini, KPH Notonegoro selaku mempelai pria akan memberikan sebungkus harta yang berisi koin emas dan segala ubarampe berupa berbagai macam benih, beras, dan uang receh. Makna yang terkandung, "seorang suami bertugas untuk memberikan nafkah kepada istrinya."

Kirab - Kepatihan (23 Oktober 2012 - Pukul 09.00)
Pada prosesi ini orangtua mengantar kedua mempelai menuju pelaminan. Untung melaksanakan prosesi ini total ada 12 kereta kencana yang mengiringi pengantin dari Keraton menuju Kepatihan. Kereta-kereta ini akan ditarik 68 ekor kuda serta dikawal 360 prajurit dari berbagai bregodo (kesatuan). Di sepanjang kirab pengantin, masyarakat akan dijamu dengan hidangan makanan serta minuman yang disediakan gratis para sukarelawan. Ini adalah inisiatif dari masyarakat. Ini pesta rakyat, bukan semata-mata hajatan Sultan

sumber foto: disini
Prosesi perarakan atau kirab hari ini dinamai 'Kirab Kereta Kencana'. Mengandung makna: bersatunya pemimpin dengan rakyat, atau dalam bahasa Jawa, "Manunggaling Kawulo Gusti".

Resepsi - Kepatihan (23 Oktober 2013 - Pukul 10.00)
Resepsi dimeriahkan oleh tarian adat yang menarik, yaitu Tarian Bedhaya Manten yang merupan tarian luhur budaya Jawa dan kemudian Tarian Lawung Ageng. Acara Resepsi akan berlangsung dengan ketentuan adat Kraton Yogyakarta dengan nuansa tosca-lavender.

Pamitan - Gedhong Jene (23 Oktober 2013 - Pukul 19.00)
Pamitan dilakukan setelah Resepsi, sekaligus menjadi penutup rangkaian upacara. Dalam upacara ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X akan menyampaikan beberapa pesan dan nasihat kepada kedua mempelai, sebagai bekal untuk mengarungi rumah tangga.


Tidak bisa dipungkiri memang prosesi yang harus dijalanakan dalam acara Pernikahan Agung Keraton Jogjakarta ini begitu panjang. Tapi dari tahap satu hingga terakhir begitu sarat makna dan filosofi.

Dimulai dari meminta restu orang tua dan mendoakan leluhur, dilanjutkan "Siraman" yang bermakna pen-suci-an diri, Akad nikah dengan tata cara islam yang dibalut budaya jawa yang begitu sakral, Kirab yang dilakukan dengan menjunjung jiwa Manunggaling Kawulo Gusti yang berarti membaurnya antara pemimpin (Raja) dengan rakyatnya, hingga acara penutup berupa pesan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada kedua mempelai, sebagai bekal untuk mengarungi rumah tangga.

Jadi jika selama ini kita hanya membayangkan acara Royal Wedding yang begitu epik hanya da di kerajaan-kerajaan Eropa, kita harus melihat dulu batapa epik dan sakralnya acara Pernikahan Agung Keraton Yogyakarta ini. Selain pernikahan menjadi acara yang begitu sakral, Yogyakarta telah menunjukkan betapa indahnya Kebudayaan Jawa yang tentu saja menjadi unsur kebudayaan INDONESIA.

Aku sebagai bangsa INDONESIA pada umumnya dan masyarakat jawa pada khususnya merasa begitu bangga memiliki kebudayan luhur yang terus di jaga hingga saat ini. Jika di Inggris ada Royal Wedding Pangeran William dan Catherine Middleton di INDONESIA ada Royal Wedding Gusti Kanjeng Ratu(GKR) Hayu dan Kanjeng Pangeran Haryo(KPH) Notonegoro. Semoga dengan unsur-unsur budaya ini terus memperkaya negeri ini dan membuat kita semakin bangga dengan INDONESIA..

21 comments:

  1. prosesnya panjang bangettttt -_________-
    tapi aku suka sama GKR hayu, cantik pas pake kacamata :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa adat jawa kan memang panjang,hehe
      benerr cantikan waktu pke kacamata yaa :))

      Delete
  2. prosesinya melelahkan ya~
    panjang >.<

    tetapi sangat istimewa ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa iyaa laahhh,,kan jogja itu istimewa :))

      Delete
  3. waha mas Rizki niat banget yaa ini nulis urutan acaranya.
    tapi selalu seneng liat prosesi-prosesinya, apalagi ika juga kan orang jogja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. oiaa kmu orang jogja ka??,kemarin liat kirabnya gak??
      itu prosesinya panjang tapi pasti membahagiakan :))

      Delete
  4. tadi pagi aku menyaksikan langsung kirabnya,, sayang gak kebagian makan gratis padahal sengaja bawa perut kosong tuh dari kosan...haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah pasti seruu ya mbak bisa ada disana secara langsung,,aku cuma liat dari tipi :((
      wah sayang sekali udah kehabisan duluan tuh :DD

      Delete
  5. Setuju ki.. aku juga bangga loh
    Itu fotonya yang terakhir sweet sekali..

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi setujuu kan kalu pernikahan yg epik banget gak cuma ada di eropah2 sono,hehe :DD

      Delete
  6. Nice info :) jadi tau banyak royal wedding keraton Yogyakarta :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. barangkali bisa buat refrensi teman nikahan nanti,hehe :p

      Delete
  7. kereeen, nikah aja prosesnya banyak banget, huwaaaaaahh :O

    ReplyDelete
  8. Aku tanggal 22-23 ke jogja lah tapi ga sempet lihat.. studytour sih ._.

    ReplyDelete
  9. eh kamu liat secara langsung tuh? masa aku yang di jogja nggak liat ya *nyesel* :((

    ReplyDelete
  10. wah, baca postingan mas RIzki jadi inget cerita mama-ku yg asli Jogja, biarpun aku sendiri jogja-nya udah campur2,, hehehe... Great post! :)

    ReplyDelete
  11. Wuaaaah...
    Prosesi adat pernikahannya masih awet dan komplit.
    Jadi bisa tau banyak. Makasih ya mas udah ngeposting ini.
    Jadi pengen ngepoating prosesi adat pernikahan di Aceh. Hehehe

    ReplyDelete

Alangkah lebih bijaksana untuk menyambung silaturahim dipersilahkan meninggalkan jejak berupa komentar,,,terimakasih..^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sahabat EPICENTRUM