HeadLine

Tuesday, 13 March 2012

Fotografi Makro


Foto makro memang tidak sepopuler foto lainnya, seperti foto pemandangan, foto diri, keindahan alam, dlsb. Meski demikian, temen-temen tidak salah jika ingin mencoba memotret dengan sasaran objek-objek yang kecil. Hitung-hitung tambah pengalaman, begitu lho! Apalagi jika kalian telah menggunakan kamera digital, pasti semakin leluasa untuk berkreasi.

Membuat foto makro termasuk tidak mudah. Menurut pakar fotografi, Leonardi, kita harus mencari dengan cermat sasaran apa yang bisa menjadi menarik untuk difotomakrokan. Sudah barang tentu bukan benda-benda yang sekadar kecil bentuknya, karena adakalanya bagian tertentu dari suatu benda besar pun bila direkam secara makro, bisa menjadi objek yang menarik. 

Arti kata makro adalah besar. Namun dalam fotografi makro, yang dijadikan sasaran pemotretan adalah objek-objek yang sangat kecil. Maka walaupun sebagian besar lensa-lensa untuk tujuan memotret benda-benda kecil itu dinamakan lensa makro, Nikon memilih kebijaksanaan sendiri dengan menamakannya sebagai lensa mikro (mikro = kecil). Tetapi kedua-duanya sama-sama bertujuan untuk memotret benda-benda kecil, yang kemudian divisualisasikan menjadi jauh lebih besar dari pada ukuran aslinya. Ya di sinilah daya tarik yang bisa kita ciptakan, kita visualisasikan, karena objek-objek yang tampil bukanlah sesuatu yang bisa disaksikan orang setiap hari.

Secara umum yang dikategorikan sebagai lensa makro atau lensa mikro adalah jenis lensa yang mampu merekam/memotret sasaran (pada film) sama besar dengan benda aslinya, disebut berasio 1:1; atau paling tidak separuh besar benda aslinya, atau dengan rasio 1:2. Kini banyak lensa-lensa vario yang disebut berfasilitas makro dengan rasio 1:4, sebenarnya dengan rasio seperti itu, resminya belum termasuk lensa makro.

Namun untuk menghasilkan foto makro, sebenarnya tidak mutlak harus menggunakan lensa makro yang harganya cukup tinggi, yakni jutaan lebih, karena jenis lensa-lensa biasa pun dengan ditambah berbagai aksesoris, bisa menjangkau rasio seperti lensa makro. Misalnya dengan tambahan konverter tele2X dan lensa close up +4 pada lensa normal 50 mm, sudah akan menghasilkan rasio sekitar 1:2, bila lensa close-up-nya +5 sudah mendekati rasio 1:1. Perangkat lain adalah reverse ring, gelang pembalik ini berperan untuk memasang lensa dengan arah terbalik. Bagian depan mengarah pada bodi kamera, sedangkan bagian belakangnya menghadap ke depan. Dengan gelang pembalik ini, segala jenis lensa berubah fungsi menjadi lensa makro "gadungan" dengan rasio sekitar 1:1, dan ini merupakan sarana termurah, karena harga gelang tidak terlalu mahal. Atau Anda pun bisa menganut cara klasik dengan menggunakan extension tubes, yang sekarang bisa digantikan dengan extension bellows. 



Sayangnya dengan sarana-sarana tambahan tersebut, jarak depan lensa terhadap objek amat dekat, sehingga bila sasaran kita adalah serangga kecil misalnya, dia sudah kabur sebelum terfokus tajam. Tidak ada sarana lain? Ya lensa makro. Untuk memotret benda mati, boleh memilih yang berjarak fokus 55 mm, sedangkan untuk benda hidup yang mudah bergerak harus memilih yang 100 mm atau 200 mm. 

Jika temen-temen menggunakan lampu kilat, lakukan tidak dengan menancapkan di atas kamera seperti biasa, karena arah cahayanya tak akan menuju sasaran dengan benar. Maka untuk pemotretan makro ini, kita harus menggunakan flash bracket yang dipasang pada lensa atau lebih efektif dengan menggunakan ring flash.

Boleh dibilang objek foto makro banyak sekali. Mulai dari bunga-bunga atau rerumputan yang masih dihinggapi embun malam, bila terkena siraman cahaya matahari pagi, bisa dijadikan foto makro yang indah sekali. Juga ulat, semut, atau serangga lain disekitar kita, juga dapat dijadikan sasaran yang mengasyikan. temen-temen pun bisa beralih ke hal lain seperti benda-benda mati di dalam rumah. Ujung pensil atau bekas rautannya, pangkal ballpoint, sebagian dari sisir digabung dengan bagian dari sikat gigi, tebaran paku payung, kumpulan jarum pentul. 

Segala benda berwarna yang kalian temui bila dicuplikan sebagian kecil, niscaya bisa dijadikan suatu karya foto yang memiliki nilai lebih, dan bisa dijadikan pajangan dalam pigura untuk digantung di dinding. Setelah Anda mahir cobalah dengan memadukan beberapa benda atau bagian benda untuk disusun sebagai suatu komposisi baru, pasti akan lebijh asyik lagi.

Beberapa kesulitan akan kalian hadapi dalam membidik sasaran. Dengan begitu dekatnya posisi lensa dengan objek, sehingga bergerak sedikit saja, sasaran sudah out-of focus. Kemungkinan yang bergerak itu bisa kamera, bisa juga objeknya. Namun dengan bantuan penyangga hal itu bisa diatasi sebagian. 

Hal lain adalah sempitnya ruang tajam, maka kita hampir selalu memilih bukaan diafragma terkecil yang dimungkinkan. Adalah bijaksana dengan menggunakan ISO 200-400 misalnya. Apalagi jika kalian sudah memiliki kamera digital. Dengan kamera ini Anda akan bisa lebih leluasa berkreasi. Pasalnya, kamera pintar ini sudah dilengkapai modus pemotretan makro. Bahkan, kemampuan pemotretan tehadap objek bisa dilakukan dengan mode pemotretan super-makro, dengan jarak paling dekat 2 cm.

Sudah tentu segala aksesoris kreatif, misalnya filter cross screen, galaxy, bahkan yang berwarna, bisa juga kita manfaatkan, agar kita peroleh kreasi lain yang lebih spektakular. Selain itu masih ada alat pendukung yang agak mahal, yakni micro adjuster. Alat ini memiliki rel silang, bisa maju mundur, juga bisa gerak kiri-kanan. 

Dengan terpasangnya di atas kakitiga (tripod), lalu ditumpangkan ke kamera, maka dalam penajaman gambar kita akan banyak terbantu. Sebab untuk mendekat atau menjauhi sasaran dapat dilakukan secara lembut sekali dengan memutar pendorong rel sesuai kehendak. Dengan alat tersebut, tripoid tidak perlu dimaju-mundurkan, karena adjuster bisa mengambil alih tugas tersebut. Dalam pemakaian, alat itu bisa juga berfungsi sebagai penajam gambar, jelasnya ia bisa bekerja serentak bersama selektor jarak pada kamera.

Di bidang medis, pasangan lensa makro dengan ring flash sudah lama dimanfaatkan, lebih sering daripada mikrografi. Dalam suatu operasi misalnya, untuk mengabadikannya menjadi efisien, karena selain praktis, juga tiada masalah timbulnya bayangan yang mengganggu, bahkan praktis bebas bayangan (shadow-free)

9 comments:

  1. ajarin reverse lens tetttooooottttt hehehe

    ReplyDelete
  2. ayo mas hunting foto bareng :D

    ReplyDelete
  3. @ichal: iyo meh foto bakteri juga bisa,hehe,,ada converter dari lensa kamera ke mikroskop.

    @bang domo: reverse mah tinggal ngebalik lensa,cuman pake alat riverse ring..

    @arsyad: lha yo mrene lah tak ajak hunting..

    ReplyDelete
  4. thanks menarik sekali ulasannya bang... nice... salam http://poetrafoto.com

    ReplyDelete
  5. Aku suka blog-nya, banyak informasi tentang fotografi yang sedang aku minati dan pelajari. Thanks for sharing.

    ReplyDelete
  6. Mas, saya baru terjun ke dunia fotografi, tapi saya masih bingung dasar" nya mas... sms ya ke nomer kuh

    ReplyDelete
  7. postingan yang bagus, dan memberikan referensi yang baik. kalo bisa kunjungi juga blog saya di
    http://yayukariyanti.blog.stisitelkom.ac.id/
    terimakasih

    ReplyDelete
  8. benar-benar penuh dengan posting yang bermanfaat buat para fotografer dan pemula nih....

    ReplyDelete

Alangkah lebih bijaksana untuk menyambung silaturahim dipersilahkan meninggalkan jejak berupa komentar,,,terimakasih..^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sahabat EPICENTRUM