HeadLine

Sunday, 6 January 2013

Double Summit: Mt. Sumbing n Mt. Sindoro (part-1)

Gunung Sumbing 3371 Mdpl

Akhir tahun 2012 memang menyisakan banyak cerita indah, karena akhir tahun ini aku dan temen2 dari kelompok pencinta alam yang pada saat itu belum ada namanya memutuskan menghabiskan minggu terakhir di 2012 di dua puncak SINDORO dan SUMBING..

Rencana ini tercetus sesaat mendarat dari puncak Gunung Gede beberapa minggu sebelumnya (baca disini)..

Dan akhirnya dengan persiapan yang cukup panjang, akhirnya diputuskan untuk ber-tazabur alam di dua gunung tersebut dari tanggal 23-27 Desember 2012..

Perjalanan dimulai dari bogor hari sabtu tanggal 22 Desember dari terminal Baranangsiang bogor ditemani rintik hujan yang mengguyur dari siang, dan esok harinya entah bagamana kita sudah berada di kota yang baru yaitu WONOSOBO...

Gunung Sumbing (3371 mdpl) memang menjadi tujuan pertama kami.
dan jalur desa Bowongso menjadi pilihan kami untuk mencapai puncaknya, meski banyak orang yang lebih memilih lewat jalur Garung untuk menuju puncak gunung Sumbing..

Aku berangkat dari Bogor bersama 3 sahabat aku: Topan, Bangun (yang ini cewek lho,hehe), dan Nisa..dan janjian ketemu simbahnya gunung kyai Ichal di Wonosobo..

dan tanggal 23 Desember tepat pukul 10.30 kami mendarat di terminal wonosobo, disitu Ichal udah nungguin sambil ngobrol2   sama om-om,hehe..(perlu dipertanyakan nih orientasinya,hehe..:p)

setelah istirahat sebentar dan makan breaklunch (rapelan sarapan dan makan siang) kami membeli logistik (khususnya air) dan bersiap melanjutkan perjalanan menuju jalur pendakian desa Bowongso..

Habis belanja logistik di Indo m*rt
Bowongso merupakan jalur baru yang mulai dibuka sejak tahun 2007 oleh para penggiat alam terbuka ( skydoors ) dibantu dengan masyarakat dan beberapa pihak lain. Dari terminal Wonosobo kami naik bus 3/4 menuju pasar kertek ( terletak diantara jalan raya Wonosobo - Temanggung ) nah dari sini kami lanjutkan perjalanan dengan men-carter  angkot warna pink (unyu bgt pokoknya,hehe) ke arah selatan ±1 km dari pasar kertek, disana terdapat pertigaan menuju arah kiri (ke arah timur) sejauh ± 6 km menuju desa Bowongso.

Sesampainya di desa Bowongso kami mampir ke rumah kepala desa yang sering digunakan sebagai basecamp oleh para pendaki, tapi pada saat itu kepala desa sedang tidak ada di rumah, lalu kami memutuskan untuk lanjut menuju jalur pendakian.

Pertama - tama kami melewati jalur berbatu yang sudah tertata rapi dengan samping kanan - kiri berupa ladang penduduk dengan medan tanjakan yang lumayan landai (tapi untungnya angkot yang kami carter bersedia mengantar hingga habis jalur berbatu ini).

kurang lebih 10 menitan kami sampai di jalur tanah (normal perjalanan jika berjalan kaki dari rumah kepala desa bisa sampai 1 jam), nah dari sini pendakian yang sebenarnya akan dimulai..

Di tengah - tengah jalur bertanah kemi mendapati percabangan, berbekal info dari Belantara Indonesia bahwa kekiri merupakan jalur penduduk untuk mencari kayu yang kalau diteruskan bisa ketemu dengan jalur dari Garung, sedangkan yang lurus merupakan arah menuju puncak. oleh karena itu kami ambil jalan yang lurus-lurus aja,hehe..

ditengah perjalanan sekitar pukul 13.30 kami bersitirahat untu ibadah sholat dzuhur jama' ashar, setelah 15 istitarahat perjalanan pun dilanjutkan kembali..
baru 10 meter berjalan jalan mulai menurun yang kemudian berbelok kekanan menuju punggungan, disini kami masuk ke ladang penduduk dan ambil jalur ke kiri lalu setelah itu ambil kanan dan kami pun mulai memasuki kawasan hutan.

Jalanan yang becek dan licin karena hujan gerimis terus mengguyur membuat langkah kami sedikit kesulitan, tapi hanya kalimat yang terus kami ucapkan yang membuat kami bisa kuat, kalimat itu adalah:

Mulai saat ini:
Hanya kaki yang melangka lebih jauh dari biasanya...
Hanya mata yang akan memandang lebih lama dari biasanya...
Hanya tangan yang berbuat lebih banyak dari biasanya..
Leher yang akan selalu melihat ke atas...
Lapisan tekat yang lebih tebal dari pada baja...
serta Mulut yang tak pernah berhenti berdoa
(inspired by: 5 cm.)

Selepas pos-1 kami bertemu rombongan dari "Jalur Ancur" yang kebetulan sudah pernah bertegur sapa di dunia luna maya lewat media sosial Twitter.. semangat kami kembali muncul saat mereka bilang pos 2 paling 20 menitan lagi (tapi ternyata hanya PHP) kenyataannya masih 45 menit..-____-

Perjalanan pun dilanjutkan dengan menyusuri hutan dengan medan bersemak dan tanjakan yang bervariasi. Semakin keatas vegetasi mulai terbuka dengan semakin jarangnya jarak antar pohon.dan akhirnya kami sampai di pos-2.

Di pos 2 terdapat tempat datar yang bisa digunakan untuk mendirikan 2 - 3 tenda. Dari pos 2 jalur terus menanjak dengan vegetasi yang semakin terbuka hingga menyisakan semak - semak / rumput - rumput yang di dominasi tumbuhan perintis seperti paku-pakuan dan pakis-pakisan. Dari sini angin mulai berhembus kencang.

tenda kami udah kaya perkapungan kumuh
 Akhirnya sekitar pukul 17.00 kami sampai di pos banyangan antara pos-2 dengan pos 3 disini ada tempat datar yang bisa untuk mendirikan 2-3 tenda, dan kami pun memutuskan untuk ngecamp disini saja..

dari tempat ini kami bisa menikmatai gemerlapnya kota Wonosobo dan megahnya Gunung Sindoro di sebelah Utara, dan bisa melihat aktifitas orang yang sedang mendaki Sindoro dengan saling menyorotkan lampu senter..disni kami juga ber-narsis ria dengan latar lampu-lampu kota wonosobo..

Kami pun beristirahat dengan menikmati secangkir kopi susu ditemani menu utama mie rebus yang pastinya sangat nikmat dinikmati di tempat seperti ini.. sebelum pukul 22.00 kamu semua sudah dibuai dalam lautan mimpi karena pukul 02.00 kami berencana untuk summit attack

berlatar lampu kota wonosobo
gunung Sindoro dipeluk malam
entah kenapa yang bisanya aku sangat malas bangun tengah malem buat summit attack kali ini langsung bangun, dengan menyeruput segelas energen kami berlima bersiap melanjutkan perjalanan ke 3371 mdpl, berpeluk udara dingin dan angin yang terus berhembus kami pun menembus malam..

Sekitar 15 menit perjalanan kami baru sampi di pos-3..
Sebenarnya di Pos 3 merupakan tempat paling nyaman untuk mendirikan tenda. Terletak diantara padang rumput yang terdapat beberapa pohon - pohon. Letaknya yang cukup terlindungi dari angin dan tanah yang datar

Pos 3 dapat untuk mendirikan hingga 10 tenda. Pos 3 merupakan tempat yang paling sering digunakan para pendaki untuk nge-camp sebelum melanjutkan menuju puncak. nah dari Pos 3 ini kami menemui percabangan jalur, yang lurus merupakan jalan shortcut dengan medan yang cukup terjal dengan melewati jalur yang tidak begitu jelas (menurut info dari internet), dan yang kekanan dengan melewati cerukan yang kemudian dilanjut menyusuri punggungan sebelah kanan dari pos 3, kami pun memilih jalur yang lebih jelas namun sedikit memutar ini.


Sekitar pukul 3.30 kami sudah melewati separuh jalan, dan kami beristirahat sejenak di Savana yang cukup luas.. kami lantas melanjutkan membelah savana untuk menuju puncak sumbing..


makin lama, makin pagi, jalur semakin menanjak dengan medan yang mulai berbatu. Semakin mendekati puncak medan tanjakan mulai bervariasi dengan batu - batuan besar di sepanjang jalur.

Dan dengan penuh perjuangan pukul 06.00 akhirnya kami berlima tiba di ujung bibir kawah Gunung Sumbing, sembari sholat subuh kami pun sujud syukur di puncak tertinggi ke-2 di jawa tengah ini.. dari tempat ini kami bisa melihat kawah Gunung Sumbing atau sering disebut Segoro Wedi yang bisa dituruni melalui sisi kiri tapi kami langsung menuju kearah Puncak di sisi sebelah kanan..

Dari puncak terpampang pemandangan gunung Sindoro yang megah disebelah utara dan untaian maket alam yang terbentang luas di bawah kami, seperti biasa sesi foto-foto dimulai dan selebihnya biarkan foto yang berbicara..

puncak sumbing
Aku dan merah putih
full team @Puncak Sumbing
perjalanan turun: membnelah savana

bersambung....disini

14 comments:

  1. trek menuju sindoro kek'y lebih mudah ketimbang sumbing. d sindoro bs nemuin padang adelweis..=)

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak juga sist,,kalau lewat Bowongso,,yang aku rasain enakan ke Sumbing, emang lebih panjang tapi lebih landai dibanding ke Sindoro..:)

      Delete
  2. maraai pengen mas, aku bakal menyusulmu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. nyusul aku kemana,,aku gak kemana2,,di Bogor aja nduk,hehe..:p

      Delete
  3. wah mantap nih pendakiannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah mantab dan selalu terkenang..:)

      Delete
  4. Masya Allah itu foto gunung Sindoronya cantik banget.. keren abis..

    ReplyDelete
    Replies
    1. pemandangan gunung Sindoro di malam hari,,di bawahnya dihiasi lampu-lampu kota..:)

      Delete
  5. ditunggu part-2 nya ya bro,keren ni buat referensi

    ReplyDelete
    Replies
    1. part2 udah ada nih bro,,monggo di baca..
      sapa tau bisa jadi refrensi..:)

      Delete
  6. ih keren bang, foto-fotonya bikin menggebu-ngebukan niat buat jadi penjelajah alam :D
    tapi kok gak ada konflik-konfliknya gitu bang * lah emang drama* haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo mau ada konflik2 nya baca yang part2,,tapi konflik yang membahagiakan kok..:)
      klo naik gunung di jamin jarang konflik..:)

      Delete
  7. sindoro sumbing ya? keren fotonya tuh, kak :D

    ReplyDelete
  8. kenapa pilih jalur bowongso di banding garung? kelebihannnya apa y mas? hehe lg cari2 info nih, kebetulan be2rapa hari lgi mau ke sumbing sindoro

    ReplyDelete

Alangkah lebih bijaksana untuk menyambung silaturahim dipersilahkan meninggalkan jejak berupa komentar,,,terimakasih..^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sahabat EPICENTRUM