Siapa yang tidak kenal dengan kota Yogyakarta, atau masyarakat jawa sering menyebutnya dengan kata Ngayogjokarto Hadiningrat. Kota yang sarat dengan nilai budaya yang luhur serta satu-satunya propinsi di Indonesia yang mendapatkan gelar "istimewa". Bukan hanya karena kota ini memegang teguh budayanya tetapi juga kota ini penuh sejarah bagi negeri ini sehingga layak dan patut dijadikan daerah istimewa.
Dua hari ini Keraton Yogyakarta sedang mengadakan perhelatan akbar, yaitu Pernikahan Agung (Royal Wedding) putri Keraton. Pernikahan agung Keraton Yogyakarta kali ini antara Gusti Kanjeng Ratu Hayu dan Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro, yang merupakan pernikahan terakhir putri Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X. Karena itu, pernikahan ini digelar lebih megah, dengan jumlah tamu lebih banyak serta perayaan yang lebih meriah.
Kebetulan dua hari ini aku dapat ikut menyaksiakan perhelatan agung tersebut. Meski hanya lewat layar kaca, tapi suasana kemeriahan dan kesakralan Pernikahan Agung Keraton Yogyakarta ini begitu terasa. Yang ingin aku bagi disini adalah tentang bagaiman kota Jogja begitu memegang teguh yang namanya kebudayan luhur. Terlihat dari begitu panjangnya prosesi pernikahan putri terakhir dari Sri Sultan Hamengku Buwono X ini.
Sebagai bagian dari warisan budaya, beberapa prosesi adat dalam pernikahan ini dipertahankan. Prosesi pernikahan agung ini bahkan memiliki 12 tahapan. Bagaimana prosesnya, berlangsung? Berikut tahapan prosesinya yang sudah dilangsungkan sejak 13 Oktober 2013.


