HeadLine

Wednesday, 23 October 2013

Ku Panggil Namamu Dinda


Siang itu itu awan mendung masih menggantung di atas langit Cibodas. Rintik hujan pun masih terus membasahi pucuk-pucuk pinus di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Secangkir kopi panas dan sepiring ubi cilembu menemaniku berbincang hangat di base camp pendakian Green Ranger, sebuah kelompok pencinta alam yang bermarkas di kaki gunung Gede-Pangrango. Ya, siang itu aku bersama Faisal, Adit, dan Marisa berencana melakukan pendakian ke puncak Gede-Pangrango.

Markas Green Ranger sudah menjadi rumah kedua bagiku. Kami selalu disambut dengan hangat di sana. Kebetulan siang itu Bang Idhat, Founding Father nya Green Ranger, sedang asik berbagi cerita. Beliau menceritakan tentang adiknya yaitu Idhan Lubis dan Soe Hok Gie ketika melakukan pendakian terakhirnya di Gunung Semeru.

Hujan nampaknya sudah tidak lagi turun. Tapi kabut lembut perlahan turun dari arah puncak, memeluk lebatnya hutan pinus di kawasan Cibodas. Sinar mentari sore pun seakan tak mampu menembus lebalnya kabut. Aku dan ketiga kawanku memutuskan untuk segera sholat ashar dan bergegas memulai pendakian, mumpung hujan sudah mulai reda.

Tepat pukul tiga sore kami meninggalkan base camp Green Ranger menuju Pos Pendakian untuk melapor. Surat ijin, barang bawaan, hingga perbekalan, semua diperiksa. Setelah semua lengkap pendakian pun dimulai. Kabut tipis pun perlahan naik kemabali, menyisakan pemandangan sore yang menawan. Semburat jingga sang mentari sore mulai mewarnai daun-daun yang masih nampak basah sisa hujan tadi siang.

“Riz, ntar kita break di Jembatan Kayu yah” kata Faisal sambil menepuk pundakku dari belakang.

“Eh iya, terserah, ente atur aja deh, lagipula kita kan mau jalan santai”, Jawabku sambil asik mendengarkan MP3 lewat headset, “Kasian juga tuh si Marisa, udah lama nggak muncak dia, hehehe”

“Enak aja, gini-gini diajakin balapan naik turun Pangrango juga masih berani” Celetuk Marisa sambil menyikut bahuku.


Kami memang sudah terbiasa mendaki bersama, apalagi ada Marisa yang selalu jadi penyemangat bagi pria-pria kesepian seperti kami. Meski wajahnya cantik tapi jangan tanya kekuatannya. Tiga bulan yang lalu dia baru saja menjuarai Wall Climbing Competition yang diadakan oleh Mapala UI.

Sore itu pendakian ke Gede-Pangrango cukup ramai, mungkin para pendaki yang hendak naik di siang hari memutuskan untuk menunggu hingga hujan reda seperti kami, sehingga sore itu cukup banyak rombongan yang menuju Gede-Pangrango. Beberapa meter dari Telaga Biru aku pun rehat sebentar di sebuah Pos untuk membenarkan posisi tas Keril dan tali sepatuku yang lepas.

“Yah belum apa-apa si Rizal udah KO”. Kata Adit sambil menepuk Faisal dan Marisa “Cupu masa belum apa sudah break” Adit masih terus mengejekku

“Udah kalian duluan aja, ntar ketemuan di jembatan kayu” Kataku sambil menaruh tas dan mulai membenarkan posisi talinya “Tadi tas gue lupa di setting, sama nih tali sepatu lepas”

“Ahh pandai kali kau berkelit Lai” Kata Faisal dengan meniru gaya orang Batak, kebetulan pacarnya memang orang Medan, dan sejak jadian Faisal jadi ikut-ikutan logat Batak.

“Ya udah Riz, kita duluan yaa” Kata Marisa sambil tersenyum manis “Yuk Chal, Dit, tinggalin aja Rizal, gak mungkin dia ilang, paling ntar dia juga di godain sama mbak-mabk kunti,hehe”

Mereka bertiga pun akhirnya meninggalkanku sendirian di Pos Telaga Biru, dan memilih menunggu di Jembatan Kayu Rawa Gayonggong. Saat aku masih asik membenarkan tali strep tas Keril-ku kulihat satu rombongan dari bawah dan nampak hendak numpang singgah di Pos Telaga Biru.

“Maaf mas numpang istirahat ya” kata seorang perempuan berjilbab biru sambil tersenyum manis padaku. Tak ada jawaban keluar dari mulutku, akau hanya sekedar senyuman yang kuberikan.

“Masnya sendirian aja?” dia pun kembali bertanya.

“Eh, iya…” jawabku singkat, sesaat aku tersadar dari lamunanku, betapa cantiknya perempuan ini “Enggak sendirian sih mbak, kami rombongan berempat, yang tiga aku suruh duluan soalnya ini aku masih benerin tali Keril sama tali sepatu, lah mbak-nya rombongan berapa orang?”
 
“Kami ber-sepuluh mas, yang enam udah naik duluan tadi siang, tapi kami berempat pilih nunggu hujan reda” kata perempuan berjilbab biru, sambil sekali lagi melempar senyum kepadaku “Oia. kita lanjut duluan ya Mas”

Entah mengapa aku selalu terpesona jika melihat seorang perempuan berjilbab naik gunung dengan tas Keril di punggungnya, menunjukkan betapa kekuatan tidak hanya pada jiwa tapi juga raganya. Justru itulah yang membuatnya nampak cantik di mataku.

Aku pun melanjutkan aktivitasku mengencangkan tali sepatuku, dan rombongan itu pun meninggalkanku di Pos. Setelah aku selesai dengan urusan tali temali aku pun bergegas menyusul ketiga kawanku yang menunggu di Jembatan kayu. Kali ini langkahku ku ayun sedikit lebih cepat, takut mereka bertiga menunggu terlalu lama.

“Buset dah ni anak baru nyampe” Kata Faisal saat aku tiba di Jembatan kayu.

“Lama banget sih lu benerin tali doang, pasti digodain kunti ya, hehe” Marisa pun ikut meledek “Sampe lumutan kita disini nungguin lu doang Riz”

“Sorry deh Sorry, Ya udah kalau gitu kita langsung lanjut aja deh” Sahutku agar kita juga masih ada waktu istirahat sebelum menuju puncak besok pagi. 

***

“Semua sudah siap?” kata Faisal menanyakan kondisi kami “Sebelum kita summit attack, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu, berdoa mulai............................selesai”

Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, kami berempat pun mulai berjalan menuju puncak Gede. Bebekal headlamp dan penerangan seadanya kami berempat menembus gelapnya hutan dengan harapan dapat melihat matahari terbit di puncak Gunung Gede. Aku nyalakan MP3 player dan mulai ku putar lagu-lagu dari Kla Project dan Katon Bagaskara. Entah mengapa lagu-lagu itu begitu menyentuh di tengah suasana alam yang syahdu ini.

Aku berjalan paling belakang, Marisa, Adit dan Faisal berjalan di depanku. Dua setengah jam berlalu, jalanan semakin terjal menanjak, dan perlahan puncak pun sudah mulai terlihat. Di ufuk timur semburat jingga mulai nampak, menandakan mentari pagi sebentar lagi muncul menerangi bumi. Masih dengan Headset  di telinga, aku terus bersenandung sebuah lagu dari Katon Bagaskara “Negeri di Awan”. Sedang ku lihat Adit, Faisal dan Marisa nampak asik berbincang.

Sesaat kulihat mereka bertiga sudah menginjakkan kaki di puncak, aku pun masih berjalan santai di belakang sambil terus bersenandung. Playlist pun berganti lagu “Dinda Dimana”. Aku pun terbawa suasana hingga tanpa aku sadari aku bernyanyi begitu keras.

“Diiinndaaa di mana kah kau beradaa!!” 

“Aku ada di belakang!!!” 

Aku pun terkejut dan tidak melanjutkan nyanyianku. Aku berhenti melangkah dan melepas Headset yang sedang ku pakai. Sambil menoleh ke belekang, aku melihat seorang perempuan dengan jilbab biru membawa tas keril berwarna merah. Ya, itu perempuan yang ku temui tadi sore di Pos Telaga Biru.

Gadis itu kemudian mengarahkan sorot headlamp nya ke wajahku. Sesaat kami saling berpandang, mata kami saling bertemu. Tak sepatah kataku terucap dari mulut kami dan diapun nampak tersipu malu, sambil berkata.

“Maaf mas aku kira mas tadi manggil saya” katanya malu-malu.

“Haduuh, harusnya aku yang minta maaf gara-gara nyanyi terlalu keras sampai nggak tau ada orang di belakang” Jawabku yang juga terlanjur tengsin 

“Oia kenalin namaku Rizal” Aku pun meberanikan diri mengajaknya kenalan.

“Namaku.... Dinda.........”

31 comments:

  1. wah namanya beneran dindaa... hahahahahahaha

    ini cerita beneran kan? kok kayak fiksi ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan pengalaman probadi sih mbak, tapi memang base from true story,hihi..

      Delete
  2. haha, bisa pas gitu namanya dinda.
    btw suka sama lagu ituu :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah gak tau juga yaa,,memang udah jodoh kali,hehe :p

      Delete
  3. ga tau harus komen apa.. saya pengen naik gunung juga..

    ReplyDelete
  4. hahaha....
    ciyeee
    pas banget ya...
    mantab2 :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. segala sesuatu itu penuh dengan kebetulan,,kadang jodoh kita pun adalah orang yg kebetulan ketemu,hehe

      Delete
  5. kisah dari green ranger yang sungguh manis....dari nyanyi bisa kenalan ..luarbiasa :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gede-Pangrango memang selalu menyisakan kanangan manis :))

      Delete
  6. wow.. manis.. indah.. berkesan sekali,,hehehe.
    makasih ya sudah berkunjung ke blogku,sudah ku follow ya blognya mas.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada-ada saja ya cara ketemunya,hehe :p
      makasih juga sudah berkunjung,,maksih juga udah follow, nanti di folbek deh :))

      Delete
  7. Ciye ciyeeee,,, ketemu sama Dinda yahh??
    Waahh,, kalo ga salah jalan ke gunung gede pangrango sama kan dengan jalan ke air terjun cibeureum itu? Aku suka berjalan di jembatan kayunya, rumputnya udah tinggi-tinggi banget yah, waktu aku dulu masih jarang-jarang.
    Aku ada rencana ke Bromo, mau gabung mas bro?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa memenag jembatan kayu rawa gayonggong punya kesan tersendiri..
      tergantung musim jg, kalau hujan yan rumputnya tinggi2 mbak :))
      wah sayang sekali aku baru saja dari Bromo :D

      Delete
  8. :D jodoh..

    saya juga pernah ke cibodas jama sma...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin..:D
      tapi itu bukan aku kok, serius deh :D

      Delete
  9. kok "chal" ? siapa chal?? kan adanya faisal, adit, rizal, dan marisa.. kenapa jadi chal??

    ReplyDelete
    Replies
    1. kisah ini hanya fiktif belaka,,mohon dimaklumi jka ada kesamaan nama tokoh lokasi dan kesamaan cerita,hehe :p

      Delete
  10. wiiiiii, asik nih kalau pengalaman travelling bisa jadi inspirasi untuk bikin cerpen kayak gini hehe. Dikembangin lagi deh mas, siapa tau bisa jadi novel yang diangkat jadi film kayak tujuh senti eh lima senti itutuh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ntar deh aku bikin novel 5 watt yaa..
      karena head lamp aku lampunya cuman 5 watt jadi remang-remang,hehe :p

      Delete
  11. dindaaaa... visualisasiku, kalau perempuan yang pakai kerudung biru itu memang cantik :)
    hihiy kak Rizki.. wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku malah gak tau cantiknya seperti apa,hehe..
      soalnya bukan pengalaman pribadi sih :p

      Delete
    2. ya.. gambarka saja bahwa perempuan berkerudung biru itu adalah seorang perempuan cantik dan tangguh.

      Dindaaa.. dimana kau beradaaa... #laluterusbernyanyi

      Delete
  12. wah...lucu endingnya :)) keren ceritanya..

    rasanya sedikit menikmati pendakian walau cuma baca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makaasih :))
      selalu ada cerita menarik di balik sebuah pendakian :))

      Delete
  13. Cieeee cieeeeee... Jadi gitu ceritanya ketemuan sama Dinda nyaaa.. *ehh
    Aku terharu baca setiap rangkaian kata di postingan ini. Mungkin memang sekarang lagi bener-bener kangen sama gunung, sekalipun yah belum bisa terobati juga kangen itu.
    Tapi aku menikmati setiap kisah yang tertuang disini. Terimakasih ya. Ditunggu lanjutan ceritanya tentang Dinda :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha,,mbak arma bisa aja,,itu bukan aku kok mbak,,base from true story nya temen sesama pendaki,hehe :p
      wah harus nyobain lagi sama suami dan anak atuh mbak, biar tambah prikitiuuw,hehehe :p

      Delete
    2. Wahaha.. pengennya begitu. Tapiii kayaknya lama juga kalo musti nunggu itu. Hemmmm... Iyasudah, ntar malah curhat jadinya. Hehe..
      Anyway, jembatan kayunya ngingetin yang di Semeru, kan ada jembatan kayu juga disana, walopun gak panjang banget. :D

      Delete
  14. blognya keren bangeeeeettt!! anak gunung banget yaaaa!! kapan aku bisa naik gunung kek gitu ya. how wonderful life you have Rizky! :D

    ReplyDelete
  15. terbawa suasananya kak baca cerita ini :) kerennn dehh kakk

    ReplyDelete
  16. nampaknya dirimu ini emang romantis yah,, pasti Dinda seneng baca postingan ini.

    ehh ya, sekarang Marisa udah gak sendiri lg dunk klo summit bareng kalian, kan udh ada Dinda jg kan sekarang ;)

    ReplyDelete

Alangkah lebih bijaksana untuk menyambung silaturahim dipersilahkan meninggalkan jejak berupa komentar,,,terimakasih..^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sahabat EPICENTRUM