Salam Lesatari...
siapa yang pernah mendaki ke puncak Semeru (3676 mdpl) puncak tertinggi Jawa??
Bagi kawan-kawan pendaki atau temen-temen pencinta alam yang sudah pernah berkunjung ke Semeru pasti tak asing dengan salah satu pos di jalur pendakian Semeru yaitu Pos Arcapada atau Arcopodho.
Bahkan dalam lirik lagu Dewa 19 yang sering menemani para pendaki semeru di utarakan nama tempat ini
Mahameru berikan damainya
Di dalam beku Arcapada
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa
Di dalam beku Arcapada
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa
-Mahameru-
Demikianlah
potongan lirik lagu Mahameru yang populer di pertengahan dekade
1990-an, yang membawa pendengarnya hanyut dalam romantisme persahabatan
para pendaki gunung. Persahabatan yang menghangatkan dinginnya suhu
gunung tertingi di Pulau Jawa. Sebuah lirik yang cukup untuk mewakili
suasana pendakian dari Desa Ranupani hingga Puncak Mahameru.
![]() |
Norman Edwin Berpose Bersama Arcopodo Tahun 1984 |
Sepotong lirik tersebut telah meninggalkan misteri bagi para pendaki tentang Arcopodo.
Apa dan di manakah Arcopodo? Setiap pendaki yang berhasil mencapai
Puncak Mahameru sudah pasti akan melewati Pos Arcopodo. Arcopodo dalam
bahasa Jawa Kuno berarti Archa = arca Padha = tempat, merupakan sepasang
arca tertinggi di Pulau Jawa yang terletak pada ketinggian 3002m dpl.
Namun anda pasti akan kecewa ketika tidak mendapati sepasang arca
tersebut di Pos Arcopodo, karena memang letaknya tidak di pos tersebut.
Setelah dipublikasikan oleh Almarhum Norman Edwin, keberadaan sepasang
arca ini seolah tenggelam dalam cerita-cerita para pendaki Gunung
Semeru.
![]() |
Foto Terbaru Arcopodo |
Bertahun-tahun keberadaan arca ini menjadi misteri di kalangan pendaki,
termasuk saya yang sudah beberapa kali mendaki ke Gunung Semeru. Sebuah
kesempatan langka untuk mendampingi tim Ekspedisi Cincin Api Kompas ke
Gunung Semeru akhirnya menjawab misteri yang selama ini memenuhi rasa
penasaran saya. Ekspedisi Cincin Api Kompas merupakan ekspedisi lintas
media yang terdiri dari Kompas Cetak, Kompas TV, dan Kompas.com dalam
rangka menggali informasi mengenai pengaruh aktifitas vulkano-tektonik
terhadap peradaban manusia.
Sebuah ekspedisi menggali kearifan
masyarakat lokal dalam menyikapi aktifitas kerak bumi yang terus
bergerak dan tidak jarang menimbulkan bencana. Cincin api (ring of fire) merupakan istilah untuk menyebut daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudera Pasifik, sehingga sering disebut Cincin Api Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km.
![]() |
Arca Sebelah Kiri |
Tidak ada yang istimewa bagi saya dalam pendakian ke
sekian kalinya ini, kecuali bertemu jurnalis-jurnalis media massa
nasional yang tidak pelit untuk membagi ilmu. Berinteraksi dengan para
pengangkut logistik ekspedisi dengan dialek Tengger yang mereka
tuturkan, merupakan sisi menarik lainnya yang saya peroleh. Tentu yang
paling istimewa adalah perjumpaan saya dengan sepasang arca yang
tersembunyi di punggungan tipis berbatas jurang-jurang nan dalam.
Setelah
sukses mencapai Puncak Mahameru pada hari ketiga walau harus dihajar
angin kencang, seluruh anggota tim ekpedisi kembali ke Pos Arcopodo
untuk menyantap sarapan yang telah disiapkan tim pendukung. Sesuai
rencana, kami akan mencoba menemukan sepasang arca tersebut dengan
bantuan pemandu lokal yang bertugas sebagai pengangkut logistik tim
ekspedisi.
Parningotan Sinambela, demikianlah nama lengkap Pak Ningot yang telah menjadi teman saya selama menjadi sweeper/penyapu
sepanjang perjalanan dari Desa Ranupani hingga Pos Kalimati. Beliau
bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya hingga bisa “terdampar” di
Desa Ranupani yang jauh dari mana-mana ini. Berasal dari Asahan, sempat
berjuang hidup di Jakarta hingga akhirnya berjodoh dengan gadis di
pedalaman jajaran Pegunungan Tengger. Kini beliau hidup damai dengan
ladang pertanian nan subur yang selalu mendapat nutrisi dari letusan
Gunung Bromo dan Gunung Semeru.
![]() |
Arca Sebelah Kanan |
Kami harus naik kembali hingga batas vegetasi sebelum menyeberang
cerukan-cerukan lahar untuk mencari punggungan di mana arca tersebut
berada. Cerukan pertama berhasil kami lewati dengan lancar, namun tidak
demikian dengan cerukan-cerukan berikutnya yang dirintis oleh Pak
Ningot. Sungguh bukan perjalanan yang aman ketika harus melintasi
cerukan aliran lahar ini, sedang di ujung cerukan telah menanti
jurang-jurang yang cukup untuk meremukkan tulang. Saya pun terpaksa
merintis jalur yang lebih aman untuk tim, sedangkan Pak Ningot telah
bersantai sambil rebahan di bawah pohon cemara. Nampaknya beliau telah
menemukan punggungan yang di maksud.
Seluruh
anggota tim ekspedisi telah berhasil melewati kurang lebih lima cerukan
yang nampak seperti guratan di tubuh Gunung Semeru ketika kita lihat
dari jauh. Beristirahat sejenak di bawah teduhnya cemara gunung (Casuarina junghuhniana).
Perjalanan kembali dilanjutkan dengan menuruni punggungan yang diyakini
merupakan tempat kedua arca berada.
Tak sabar rasanya untuk segera
berjumpa dengan sepasang arca tersebut sehingga langkah tak terasa
mengayun begitu cepat. Sesekali pandangan kami tujukan ke dalam jurang
yang membatasi tempat kami berpijak. Langkah saya terus mengayun
meninggalkan rombongan hingga pandangan terhenti pada lembaran atap seng
yang acak-acakan. Berpaling ke belakang menatap wajah Pak Ningot,
terdengar ucapan beliau yang mengisyaratkan kegembiraan, “nah.. itu dia” ujar beliau
Tak tergambar kegembiraan saya ketika berhasil berjumpa dengan sepasang
arca yang telah menjadi misteri di kalangan pendaki. Masih persis dengan
publikasi Norman Edwin, sepasang arca yang sudah sulit untuk dikenali
karena kedua kepalanya telah terpotong. Arkeolog Universitas Negeri
Malang, Bapak Dwi Cahyono yang juga ikut dalam ekspedisi ini hingga hari
kedua, menduga salah satu arca merupakan arca
Bima yang merupakan perwujudan Siwa sebagai simbol penolak bala, dalam
hal ini adalah untuk menolak amarah Gunung Semeru. Sepasang arca ini
tepat menghadap ke utara, sehingga apabila kita menghadap ke arca
tersebut pandangan kita juga akan tepat mengarah ke Puncak Mahameru.
![]() |
Dokumentasi Arcopodo Koleksi Museum Tropen, Belanda |
Masih terdapat sesaji berupa hasil bumi yang kami perkirakan berusia
tidak lebih dari satu bulan. Walaupun arca ini sulit diakses, masyarakat
Hindu Tengger masih rutin bersembahyang di situs ini. Mungkinkah ini
arca yang sama dengan yang ada di foto koleksi Museum Tropen Belanda? Di
mana dalam foto tersebut arca masih memiliki kepala, namun jumlahnya
hanya satu buah. Tentu perlu tinjauan lebih mendalam untuk sampai pada
kesimpulan itu.
Satu yang pasti, Arcopodo bukanlah mitos yang menjadi
bumbu cerita para pendaki di dalam tendanya. Arcopodo biarlah tetap di
sana, di tempat yang menjadikannya sangat bernilai. Di tempat yang telah
puluhan tahun setia melindunginya dari ancaman kolektor barang antik.
Biarkan Arcopodo tetap menjalankan tugasnya “menjaga” amarah Gunung
Semeru. ///Hkm
Sumber: Kompasiana
Wah,. kok beda dengan yang selama ini aku tau ya. Setauku, Arca memang artinya patung, tapi pada (atau podho) dalam bahasa jawa artinya sama atau kembar. Jadi maksudnya arcapada ya karena didaerah tersebut bisa ditemukan dua buah arca yang kembar. Walaupun memang lokasinya tidak jelas dimananya.
ReplyDeleteaja mbak,,maksudnya sama,, ada yg artinya arca kembar,,atau tempat tertinggi suatu tempat :)
Deletesekarng udah jelas setelah adanya expedisi cincin apinya kompas..:)
wah keren mas, saya pengen kesana belum kesampean hehe
ReplyDeletesatu saat nanti pasti kesampean,,insyaAllah :)
DeleteAlhamdulillah, pada taggal 22,24 - Nov - 2013 sy dan teman-teman telah mendpat kesempatan menemukan Arcapada yg slama ini di ceritakan para teman-teman pendaki, seandainya bisa mengUpload foto kami inigi berbagi kebahagyaan yg takternilai ini ke teman' pendaki yg mencari arcopodo,,,,,,,
ReplyDeletetokat
ReplyDeleteankara
trabzon
istanbul
izmir
UR81D