HeadLine

Thursday, 6 September 2012

Tentang "Sebuah Tanya"

"Sebuah Tanya"

Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipis pun turun pelan-pelan
Di lembah kasih, lembah Mandalawangi

Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau
Dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi
Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya

Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

Hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi suram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang kita tidak mengerti

Seperti kabut pagi itu
Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru 

Siapa ya tak tau puisi di atas..?

Ya,,tepat sekali puisi diatas berjudul "Sebuah Tanya" yang ditulis oleh seorang mahasiswa sastra Universitas Indonesia, yang juga seorang aktivis luar biasa pada masanya, sekaligus pula seorang pendiri dari Mapala UI.

Siapa lagi orangnya kalau bukan SOE HOK GIE..

Soe (begitu ia selalu ingin dipanggil) adalah sosok idealis yang lahir pada 17 Desember 1942. Ayahnya Soe Lie Piet juga seorang penulis, baik karangan fiksi maupun non-fiksi. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie sering berkunjung ke perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di Jakarta. ketika masih Sekolah Dasar, Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang berbobot, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Ttak heran jika akhirnya ia memilih Fakultas sastra UI sebagai tempatnya menuntut ilmu.

Selain kecintaannya pada sastra Soe juga sangat menyukai kegiatan alam bebas dan naik gunung. karena itu pula lah Soe juga ikut mendirikan perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam UI (Mapala UI) bersama sahabatnya Herman O. Lantang.Melalui sarana inilah Soe dapat mengekspresikan kecintaannya pada alam. 

Lembah Mandalawangi di gunung Pangrango merupakan tempat favorit baginya untuk melepas segala penat yang dirasakan. Ikatan yang kuat antara Soe Hok Gie dengan alam pula yang menghantarnya pada keabadian ketika pada tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, Gie meninggal akibat menghirup asap beracun di gunung Semeru, tanah tertinggi di pulau Jawa.

Soe Hok Gie sangat senang menulis, baik itu tulisan tajam dalam mengkritik pemerintah maupun karya sastra seperti puisi. Puisi-puisinya sangat menggambarkan realitas zaman itu yang penuh dengan permainan politik. Soe merefleksikan segala bentuk dinamika kehidupan dalam puisinya. Terdapat sisi refleksi dalam puisi-puisi Soe yang dapat menggugah hati setiap pembacanya. 
Dalam puisi “Sebuah Tanya” ia menggambarkan jalan percintaanya dengan perempuan dapat disandingkan dengan kecintaannya pada alam, khususnya pada lembah Mandalawangi yang nantinya akan menjadi tempat bagi peristirahatan Soe yang terakhir di mana abu kremasinya ditaburkan di tempat itu.

Soe Hok Gie menganalogikan kisahnya dengan nasib para prajurit. Mereka dipuja-puja, dianggap sebagai pahlawan sebagai tentara pembebas. Namun, jika ada anak perempuan ingin dinikahi, semuanya akan berkata, “nanti dulu”. 

Sekali waktu Soe Gie pernah berkata, “Saya juga mulai menyadari reaksi ibu (dari) Maria. Orang-orang Tionghoa ini senang pada saya karena saya berani, jujur, dan berkepribadian. But no more than that. Pada saat mereka sadar bahwa saya ingin menjadi in-group mereka, mereka menolak; Soe baik tetapi tidak untuk keluarga kita.”
Ada yang menarik dari bagian puisi : “Manisku, aku akan jalan terus. Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan, bersama hidup yang begitu biru.”. Dalam bagian ini kita dapat melihat ketegaran Soe Hok Gie dalam menjalani kisah cintanya. Hampir tidak ada tanda-tanda bagaimana ia hilang semangat. Pupusnya kisah cinta tidak membuatnya terjebak pada penolakan itu sendiri. Life must go on.

Perjuangan Soe Hok Gie ternyata tidak sebatas pada dunia politik saja. Perjuangan politik bisa saja menyita banyak waktu dari sedikit waktu hidupnya, namun perjuangan dalam cinta seorang Soe Hok Gie ternyata lebih dalam dan penuh dengan lika-liku yang tidak mudah untuk diatasi. Ketegaran Soe patut diapresiasi. Puisi “Sebuah Tanya” adalah jawaban dari sejuta pertanyaan tentang kisah cintanya.

dari berbagai sumber

14 comments:

  1. gue cuman berharap semoga kita semua kelak bisa menjadi sperti Soe Hok Gie ini melalui tulisan2 di blog yang kita miliki kawan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. oleh sebab itu jadikan setiap postingan kita bermutu dan menginspirasi orang lain..:)

      Delete
  2. walopun aku nggak jago bikin puisi,tapi ikut aminin komentar diatas ajah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. menulis dan mengutarakan isi hati atau mengkritik tidak harus lewat puisi..:)

      Delete
  3. Gie memang benar2 hmmm luar biasa, mas!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya dan dia salah satu inspirasi aku..

      Delete
  4. Saya malah ga kenal dengan beliau -_____-

    Salam kenal pak !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. bagi yang mengaku pencinta alam atau aktivis kampus,,harus tau atuh tokoh ini..

      Delete
  5. baru tau puisi ini pas ada lagu ost GIE by Erros, merinding... "kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta..."

    ReplyDelete
    Replies
    1. i like "kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta..."
      bangian dari puisi ini yg paling aku suka..:)

      Delete
  6. Soe Hok Gie adalah tokoh pemuda yang saya kagumi :D
    keren !...
    kata yang aku suka di filmnya "lebih baik mati dibunuh dari pada mati dalam kemunafikan"

    ReplyDelete
  7. Emosional saya membuncah setiap mengingat puisi ini dan gie. Entah, barangkali ada sesuatu yang lebih kuat justru di luar sosok gie itu sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh Bang gue baru baca sekarang puisinya, ternyata sangat menarik. terutama pada "kita begitu berbeda dalam semua
      kecuali dalam cinta


      Salam knal.

      Delete

Alangkah lebih bijaksana untuk menyambung silaturahim dipersilahkan meninggalkan jejak berupa komentar,,,terimakasih..^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sahabat EPICENTRUM