Wednesday, 28 August 2013

MAHAMERU: Perjalanan Menuju Puncak Para Dewa (bagian 3)

--Berselimut Kabut Ranu Kumbolo—

17 Agustus 2013

Masih terngiang penggalan lirik Mahameru yang terus ku putar di dalam tenda sepanjang malam.

Mendaki melintas bukit, Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin, Berselimut kabut Ranu Kumbolo...

Dua Srikandi dalam pelukan kabut Ranu Kumbolo
Syair itu benar-benar menggambarkan suasana Ranu Kumbolo pagi ini, kabut tebal menghalangi sinar surya menyentuh permukaan Ranu Kumbolo. Seolah menyelimutinya dari segala macam keburukan dan apapun yang hendak menyentuhnya. Akupun bergegas masuk ke dalam selimut kabut itu untuk ikut menikmati pagi di Bumi Pertiwi yang sedang merayakan hari kemerdekaanya yang ke-68 ini.

Dirgahayu Indonesiaku..!!!
Merdeka..!!!
Sekali Merdeka tetap Merdeka..!!!

Tepat 17 Agustus, Di tepi Danau di ketinggian 2400 meter diatas permukaan laut ini, di salah satu surga di tanah khatulistiwa ini, kurasakan bangga menjadi anak dari ibu pertiwi. 68 tahun sudah bumi ini lepas dari penjajahan kolonial bangsa lain, meski bukan berarti mutlak merdeka dari penjajahan-penjajahan lain yang terus menyerang negeri ini.

Penjajahan moral, penjajahan akhlak, dan penjajahan ideology masih terus menerpa bangsa ini. Kita memang sudah merdeka dari adu domba bangsa Belanda tapi kita masih dijajah oleh koruptor yang masih bebas merajalela. Kita memang sudah merdeka dari kekejian pasukan Jepang tapi moral pemuda kita masih dijajah olah teknologi yang memberikan pengaruh buruk bagi perkembangan mereka.

MAHAMERU: Perjalanan Menuju Puncak Para Dewa (Bagian 2)

--Perjananan Menuju Surga—

Tanggal 16 Agustus 2013

Ranu Pani di pagi hari
Dipeluk dinginnya pagi di Ranu Pani, kami bersiap untuk santap pagi dan menyiapkan diri menuju puncak abadi para dewa. Menu pagi itu adalah sayur sop hasil kolaborasi Chef Ayi dan Chef eNeng. Buatku ini adalah menu termewah yang pernah aku nikmati selama hampir 5 tahun mendaki gunung. 

Sekitar pukul 09.30 pagi kami semua mendaftarkan diri ke Pos Informasi, menyerahkan sejumlah persyaratan administratif, memang sedikit molor dari jadwal, tapi tak apalah lah yang penting sekarang surat izin pendakian Gunung Semeru sudah ditangan.

Sarapan pagi bersama di Ranu Pani
Barulah sekitar pukul 11.00 pendakian benar-benar dimulai. Jalur pendakian Semeru yang akan kami lalui adalah Ranupane – Waturejeng – Ranukumbolo – Oro Oro Ombo – Cemoro Kandang – Kalimati – Arcopodo – Puncak Mahameru. Sedang target pendakian kami hari ini adalah sebuah surga yang ada di kaki Semeru; Ranu Kumbolo.

Bersiap melangkah menuju Ranu Kumbolo

MAHAMERU: Perjalanan Menuju Puncak Para Dewa

Sejuta haru menderu…
Beribu kebahagiaan membuncah…
Ukiran senyum tersungging…
Untaian kata syukur terus mengalun…
Mengiringi jemariku menggoresakan kata demi kata…

Ini adalah cerita tentang sebuah perjalanan hati mewujudkan mimpi, penuh cerita indah dan riuh kecerian bersama keluarga baru, menuju satu tempat tertinggi di pulau ini, dengan perjalanan yang penuh kisah tak terperi, untaian doa tak bertepi, dan sebuah harapan mewujudkan mimpi..

Kalaupun perjalanan ini akan berakhir dengan hembusan nafas terakhirku, aku sudah siap untuk itu. Dan selayaknya perjalanan menuju sebuah alam mimpi, akupun dengan sejuta keiklhasan sejenak menutupkan mata lalu perlahan melangkahkan kaki menuju satu tempat yang sudah ku anggap sebagai rumah kedua itu dengan ringan. Kita berasal dari tiada, dan akan kembali ke tiada…

--Mimpi memeluk Semeru—

Dengan puncak Mahameru yang menjulang 3676 meter di atas permukaan laut, menjadikannya sebagai tanah tertinggi di pulau Jawa.

Kawasan Bromo-Semeru
Disinilah tempat Sang Idealis angkatan '66 sekaligus salah satu pendiri Mapala UI "SOE HOK GIE" tutup usia di usia emasnya, tepat satu hari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Disini pula sebuah cerita tentang indahnya persahabatan terukir dalam sebuah tulisan yang telah di visualisasikan 5cm.

Mendadak aku bercerita sedikit lebih dramatis perihal ini, sebuah mimpi yang akan berujung pada titik tertinggi di pulau ini. Puncak abadi para dewa. Sebuah tempat yang tak hanya mengharuskan fisik bergelut dengan alam, tetapi juga lapisan tekad yang menyelimuti hati yang bisa membawa kita kesana.

Saturday, 24 August 2013

Mengenang Kepergian Soe Hok Gie & Idhan Lubis

Assalamulaikum

apa kabar kawan EPICENTRUM sekalian..
Aku mau bebagi sedikit artikel nih,,gak sengaja lagi jalan-jalan di dunia maya sekalain blog walking sambil nyari info tentang SOE HOK GIE nemuin artikel ini.


Aku memang salah satu pengagum tokoh mahasiswa yang satu ini, selain dia orang idealis dan tidak mau menyerah pada kemunafikkan, kecintaannya akan alam Indonesia yang menjadikannya salah satu pendiri MAPALA UI membuatku banyak terinspirasi akan gerakan-gerakannya..

Tetapi mungkin memang Yang Maha Kuasa berkehendak lain, seorang Idealis dan kritikus ulung ini tutup usia di pelukan bumi pertiwi di puncak tertinggi Jawa, bersama seorang sahabatnya Idhan Lubis saat sedang melakukan pendakian ke puncak Mahameru.

Tak banyak yang tahu memang kronologis kematiannya, bahkan banyak yang berspekulasi bahwa dia korban dari konspirasi politik, tapi aku percaya kalau memang kematiannya sudah takdir Yang di Atas, dan Gas Beracun Semeru lah yang mengantarkan dirinya dan Idhan kembali ke alam baqa.

Dan artikel ini akan sedikit menceritakan tentang akhir hidup seorang Idealis sekaligus sang Pencinta Alam ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sahabat EPICENTRUM