--Berselimut Kabut
Ranu Kumbolo—
17 Agustus 2013
Masih terngiang penggalan lirik Mahameru yang terus ku putar di dalam
tenda sepanjang malam.
Mendaki melintas bukit, Berjalan
letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin, Berselimut
kabut Ranu Kumbolo...
| Dua Srikandi dalam pelukan kabut Ranu Kumbolo |
Syair itu benar-benar menggambarkan suasana Ranu Kumbolo pagi ini,
kabut tebal menghalangi sinar surya menyentuh permukaan Ranu Kumbolo. Seolah
menyelimutinya dari segala macam keburukan dan apapun yang hendak menyentuhnya.
Akupun bergegas masuk ke dalam selimut kabut itu untuk ikut menikmati pagi di
Bumi Pertiwi yang sedang merayakan hari kemerdekaanya yang ke-68 ini.
Dirgahayu
Indonesiaku..!!!
Merdeka..!!!
Sekali Merdeka tetap Merdeka..!!!
Merdeka..!!!
Sekali Merdeka tetap Merdeka..!!!
Tepat 17 Agustus, Di tepi Danau di ketinggian 2400 meter diatas
permukaan laut ini, di salah satu surga di tanah khatulistiwa ini, kurasakan
bangga menjadi anak dari ibu pertiwi. 68 tahun sudah bumi ini lepas dari
penjajahan kolonial bangsa lain, meski bukan berarti mutlak merdeka dari
penjajahan-penjajahan lain yang terus menyerang negeri ini.
Penjajahan moral, penjajahan akhlak, dan penjajahan ideology masih
terus menerpa bangsa ini. Kita memang sudah merdeka dari adu domba bangsa
Belanda tapi kita masih dijajah oleh koruptor yang masih bebas merajalela. Kita
memang sudah merdeka dari kekejian pasukan Jepang tapi moral pemuda kita masih
dijajah olah teknologi yang memberikan pengaruh buruk bagi perkembangan mereka.


