HeadLine

Wednesday, 28 August 2013

MAHAMERU: Perjalanan Menuju Puncak Para Dewa (Bagian 5)

--Puncak Abadi Para Dewa—

Middi berjalan di depan dengan ayunan langkah yang lebih cepat, kali ini aku yakin bahwa itu memang dia, sambil bilang “ane tunggu di puncak ya ki”. tak ada jawaban keluar dari mulutku, hanya sebuah anggukan kecil, mempersilahkannya melangkah di depan. Kali ini yang dikatakannya benar, tepat pukul 07.00 Middi adalah orang pertama dari Tim kami yang tiba di Puncak Mahameru, 5 menit setelahnya aku memegang tepian batu dan melihat sebuah tanah datar seluas lapangan bola, sambil berkata..

Sampai…ya, Aku Sampaaii.....

Hanya rasa haru yang memenuhi hati. Lapisan tekad kami, yang telah kami teguhkan untuk dapat sampai disini. Sebuah Impian. Harapan. Persahabatan. Cinta. Inilah satu puncak yang selalu melintas dalam setiap mimpi-mimpiku, tak hanya aku, tapi juga mimpi-mimpi mereka, sahabat yang begitu dekat bagai seorang saudara. Hati kami telah kami bawa kesini mencapai puncak tertinggi Tanah Jawa. ...

beberapa langkah lagi Puncak Mahameru
Aku menghampiri Middi yang tengah duduk santai di tengah tanah lapang itu diatas sebuah tumpukkan batu. Mataku sedikit berkaca-kaca, rasa haru memenuhi rongga dada, dan langsung ku hadapkan tubuhku ke barat, kutekuk lututku, dan aku bersujud sambil terus mengagungkan nama-Nya, Middi pun ikut dalam keharuan dan kami sujud syukur bersama di Tanah Tertinggi Pulau Jawa ini, di puncak yang konon adalah Puncak abadi pada Dewa.

disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku

Yaa Allah Yaa Tuhanku
Hari ini 18 Agustus 2013
Sebuah impian dari seorang anak manusia telah menjadi nyata
5 tahun lebih aku menantinya
Hari ini aku berdiri diatas bumi, tapi begitu dekat dengan langit
Dan hari pula ini Kau tunjukkan kuasa-Mu
Bahwa kekuatan raga, hati, tekad, dan doa-lah yang bisa
Yang mampu membawaku berdiri diatas awan
Berdiri diatas untaian hijaunya zamrud khatulistiwa
Berdiri di tanah tertinggi pulau ini
Ayah, ibu, aku berhasil sekali lagi
Sekali lagi melihat dan mensyukuri alam ciptaan-Nya
Dinda, jika memang kau minta ini terakhirku mendaki
Aku ikhlas, tapi jika aku harus kesini lagi
Akan kuajak kau dan anak laki-laki kita
Melihat indahnya kepingan surga di bumi INDONESIA

Disinilah titik dimana diriku hanya mampu bersyukur dan tak tahu harus mendefinisikan bagaimana perasaan yang hadir. Aku langkahkan kaki melewati bendera-bendera yang ditancapkan di puncak itu, mengelilingi salah satu puncak yang menjadi impian banyak orang di negeri ini. Kami bertiga melangkah ke tepi memangdang kawah Jonggring Saloka, menunggu momen saat dia mengeluarkan gumpalan awan dari perut bumi.

Letupan Kawah Jonggring Saloka
Di tempat ini hampir semua orang disibukkan oleh kegiatannya masing-masing, tentu saja siapapun tak mau untuk menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan diri di tempat ini. Selayaknya sebuah ritual atau prosesi yang wajib dilakukan mereka saling bertukar posisi, mulai dari dengan bendera merah putih, kemudian membelakangi wedhus gembel yang keluar setiap 20 menitan, kemudian memegang papan penanda Mahameru 3676 mdpl. Mereka melakukannya sendiri-sendiri, kemudian berganti ke dalam kelompok pendakian mereka masing-masing. Dan kami pun tak mau ketinggalan mengikuti ritual tersebut.
disinilah GIE dan Idhan menutup mata
salamku untuk Indonesia
merah putih teruslah kau berkibar
3676 mdpl
Kali ini gaya kami sedikit berbeda, ternyata ada mimpi lain yang di bawa oleh Middi, teman seperjuanganku menuju Mahameru. Satu hal yang membuatnya kuat adalah sebuah impian untuk berfoto dengan menggunakan Toga (pakaian wisuda) di atas puncak tertinggi ini. Bulan Sepetember ini ini dia akan di sematkan gelar Sarjana Teknik sedang aku tepat satu bulan lalu di amanati gelar Serjana Pertanian, jadilah kami berdua ber-wisuda di puncak Mahameru.

Wisuda di puncak Mahameru
Sedang satu orang lagi yang bersama kami, sepupuku, bukan tanpa mimpi, baru satu bulan ini di tercatat sebagai mahasiswa baru di Universitas Brawijaya, untuk melengkapi impiannya; dia ingin sekali menginjakkan kaki di Mahameru, bahkan sebelum dia mulai kuliah di Malang. bisa jadi mungkin dialah Maba yang udah sampai di Semeru sebelum kuliah di Malang.

Kami bertiga berdiri disini, di tanah tertinggi pulau jawa dengan mimpi kami masing-masing, dan mimpi-mimpi itulah yang bisa membawa kita sampai disini.

three must"getir"
“Teruslah bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”

Dengan angka 3.676 meter diatas permukaan laut, Gunung Semeru menasbihkan diri sebagai gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci (3.805 mdpl) dan Gunung Rinjani (3.726 mdpl). Keelokannya dalam komplek Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, menjadikan komplek pegunungan ini termasuk dalam gugusan gunung terindah di Dunia.

Dan perjalan hati kami menuju Puncak Abadi Para Dewa, mungkin sudah mencapai akhir dari cerita panjang ini. Tapi aku percaya kisah ini tak akan terhapus oleh hembusan angin yang menerpa, tak akan hilang oleh hujan badai yang datang. Karena cerita indah ini kan terpatri di dalam hati sanubari kami hingga akhir menutup mata.

Dan sekali lagi aku tak bosan memandang di sekelilingku, Gunung Arjuna dan Welirang nampak gagah menjulang, laut selatan jawa nan biru menunjukkan keelokkannya, bukit Jamabangan yang hijau dan ayek-ayek sayup sayup terlihat dalam dekapan awan. Serta kepulan asap dari Jonggring saloka sekali lagi membuatku bersenandung, sebuah lagu yang selalu kunyanyikan ketika hendak turun dari puncak gunung…


INDONESIAKU

Hamparan alam luas membentang di jagad khatulistiwa
Harum tanahmu hijau warnamu tak kan pernah terlupakan
Tempat dimana aku dilahirkan dan tempat dimana nanti
Aku kembali, duduk disini menutup hari dan mati

Ku berjanji rasa ini akan selalu di hati
Sampai suatu saat nanti ku akan tetap disini

Kucinta hijaunya alammu
Kucinta birunya lautmu
Kucinta semua yang ada padamu
INDONESIAKU

Dan di akhir senandung lagu ini, aku ucapkan salam selamat tinggal Puncak Mahameru, satu saat nanti mungkin aku kan ke sini lagi bersama anak laki-laki ku untuk menunjukkan kepadanya betapa kaya dan indahnya negeri INDONESIA ini.

Satu hal yang tak pernah hilang dalam pikranku saat mulai menuruni puncak adalah rasa takut apakah aku bisa turun dengan selamat dari ketinggian ini. Tapi ternyata kali ini tidak. Perjalanan turun begitu mudah, jalur berpasir akan menahan lajumu. Jadi, yang harus dilakukan hanyalah menempatkan kaki pada posisi yang tepat, agar berat tubuh tetap bisa seimbang, dan kamu akan meluncur perlahan. Itu dilakukan terus menerus. Berkali-kali. Bagi kebanyakan pendaki lainnya, mereka begitu menikmati prosesi ini, mereka meluncur begitu cepat.

Waktu menunjukan pukul 09.30 saat kami bertiga mengucapkan salam selamat tinggal kepada Mahameru, Matahari semakin terik, debu semakin mudah terusik, kerongkongan semakin kering, persediaan air sudah habis sedari tadi. Aku berlari di depan Middi dan Mas iful, kali ini aku egois, bukan karena tega, tapi karena kesadaranku sudah mulai berkurang, karena aku sudah mulai merasa dehidrasi parah. Hanya bayangan untuk sampai Arcopodo dan meminta air pada pendaki lain yang ada dalam benakku.

Dua atau tiga kali badanku terhempas di pasir, menahan tubuh yang mulai goyah. Aku berlari nyaris tanpa kesadaran yang penuh, keringat yang keluar adalah keringat dingin, saat aku terjatuh yang terakhir aku sempat berfikir “mungkin ini akhirku”  tapi ternyata aku masih bisa berdiri dalam keremangan yang terik itu.

Cemoro Tunggal yang kini tumbang
Langkahku gontai menuju Cemoro Tunggal, dalam jalur yang sangat sempit dan hanya bisa dilewati 1 orang aku kembali terpeleset dan nyaris terperosok kekiri, ya cerukan dalam yang merupakan rangkaian Blank 75, tapi Allah masih menyelamatkanku, aku terduduk di jalur. andai saja aku sedikit terpeleset ke kiri, mungkin nisanku akan tertanam disini.

di sini aku sempat terpeleset, jika satu langkah saja kekiri dan...........
Setelah ku rasa cukup mengisi tenaga, aku kembali tertatih menuju Arcopodo, kebetulan sekali para pendaki masih ada disini sambil membereskan tenda. Aku hempaskan tubuhku di salah satu pohon di samping tenda mereka.

“Permisi mas, masih punya sisa air, saya kehabisan air dari sebelum sampai puncak dan belum minum sampai sekarang”, saat itu pandanganku sudah mulai berkunang-kunang, salah satu pendaki yang ada di dalam tenda yang masih berdiri menyodorkan sebotol air 600 ml yang tinggal setengah, sambil bertanya

“masnya nge-camp di kalimati ya?”,
 aku pun menjawab “iya mas, sebagian air ada disana, kami sedikit kurang perhitungan”.
Orang tersebut lalu berkata, “ini tinggal setangah, tapi cukup sampai kalau sampai Kalimati, kami masih ada kok sampai ranu Kumbolo”
“wah terimakasih banyak mas”

Aku pun kembali berjalanan tertatih diantara Arcopodo hingga Kalimati. Matahari begitu terik, debu yang ikut terhirup menjadikan kerongkongan begitu sakit saat menelan ludah. Berbekal air minum itu, aku hemat agar tidak habis di jalan. Kering. Debu-debu terus naik, sedikit demi sedikit jarak harus dipangkas. Akhirnya pukul 11.00 aku pun sampai di Kalimati. Ya, aku orang pertama yang sampai di tenda. Aku langsung minum yang banyak, kelewat banyak, dan akhirnya tertidur pulas di dalam tenda mungilku, bercampur dengan bahan makanan, di bawah sebuah pohon beralaskan matras.

Satu jam kemudian Middi dan Mas Iful menyusul datang, aku persilahkan mereka gantian beristirahat. disiini Middi sempat bilang kalau di puncak tadi sempat teler gara-gara minum isotonic. Aneh juga, biasanya isotonic unguk mengganti ion tubuh yang hilang kenapa justru Middi jadi teler, ya sudah lah, yang penting sekarang kami semua sudah selamat kemabali di Kalimati.

Setelah istirahat dirasa cukup aku dan mas Iful menuju Sumber Mani, untuk mengisi air dan sekedar menyegarkan diri sambil menunggu yang lain datang. Air di Sumber mani ini tak bisa aku lukiskan kesegaranya, dengan airnya yang jernih, keluar dari sela bebatuan dan akar cemara, benar-benar mengobati rasa dahaga dan panas terik yang terus menyengat hari itu.

Tepat pukul 15.30 sore, semua anggota Tim sudah berkumpul. Dari kami ber-11, ada 4 orang yang belum bejodoh dengan mahameru. Rina, Yunita, Nitha, dan Om Rey, mungkin Om Rey harus mangawal para wanita ini sehingga tidak melanjutkan hingga puncak. Sedang Ayi, Adi, Neng Sofi, dan Karla, menginjak puncak saat aku sudah sampai di dalam tenda.

Saat Neng Sofi sampai di tenda, aku pun membalas apa yang dikatakannya semalam.
"Neng doa kamu terkabul, gara-gara uku bersehin makanan semalem, jadi nyampe pertama di Mahameru,hehe" 
"wah bener juga yaa, makan banyak, nyampe pertama" dan kami pun tertawa bersama.

menginap satu malam lagi di Kaliamti
Kondisi fisik kami yang lelah tak memungkinkan untuk turun ke Ranu Kumbolo. Kami memutuskan untuk menginap 1 malam lagi di Kalimati dan akan langsung menuju Ranu Pani besok pagi. Maka jadilah malam ini malam terakhir kami bercanda bercengkrama bersama di bawah bayang-bayang Mahameru. Malam itu adalah malam terdingin di kalimati, suhu disini mungkin di bawah nol derajat, hingga pagi hari kami temukan es disudut tenda kami.

--Mahameru kami Pamit—

19 Agustus 2013
Langkah kami menuju Ranu Pani pagi ini jelas jauh lebih mudah. Terutama jalur Jambangan – Cemoro Kandang yang kemarin begitu memberatkan dilewati, kini berganti turunan. Ada perasaan berat untuk meninggalkan tempat ini… ingin raga ini berlama-lama disini. Aku sempat diajak berlomba turun oleh Middi, tapi entah kenapa akhirnya aku ada di posisi paling belakang, mengawal dua srikandi berbadan ekstra, memastikan mereka aman di belakang.

Musik Reagae di dalam music box-ku terus berputar menemani langkahku menuju Ranu Pani. Dan “Welcome to my Paradise”  dari Steven n coconut trezz mewakili semua pemandangan yang sangat berat untuk ku tinggalkan ini.

sampai jumpa lagi, Mahameru
Selepas Cemoro Kandang, kami semua sepakat mengambil jalur yang berbeda untuk melewati Oro-Oro Ombo. Kali ini melewati jalur melandai di sebelah kanan yang berada di punggungan bukit-bukit teletubbies tadi. Kami semua sempat berhenti untuk sekedar mengabadikan momen “pamitan” dengan Mahameru. Ah, ternyata mereka juga ingin berlama-lama. Aku memandang oro-Oro Ombo dengan lebih khidmat. Sesekali pendaki melewati padang lavender-rumput-ilalang di bawah kaki kami. Kecil sekali.

Kali ini kami hanya singgah sesaat di Ranu Kumbolo. Mengisi persediaan air, dan dua, tiga kali foto keluarga, perjalanan mesti diteruskan menuju Ranu Pane, karena kami telah ditunggu Mas Wildan dan Jipnya untuk membawa kami pulang. Sebagian besar rombongan telah lebih dahulu mendahului. Aku dan mas Iful stay di belakang mengawal srikandi-srikandi yang mulai kelelahan.

Terimakasih Ranu Kumbolo
Pengalaman dan kawan baru kembali kutemui disini, Trashbag community begitulah tulisan di stiker yang mereka berikan. Mereka adalah kelompok independen yang sedang mengkampanyekan “Gunung Bukan Tempat Sampah” pada saat yang bersamaan, 15-18 agustus ini kelompok mereka tersebar di 5 gunung untuk mengkampanyekan tentang membawa turun kembali sampah yang mereka bawa, aku pun antusias dan sedikit bertukar pikiran dengan mereka.

Kebetulan sekali aku selalu jadi “petugas kebersihan” tiap aku naik gunung. Gantungan atau souvenir yang selalu aku bawa setiap turun adalah trashbag berisi sampah, entah kenapa itu menjadi kebanggaan tersendiri buatku jika bisa membawa sampah turun. Semoga itu bisa jadi kebanggan juga buat pendaki lain. Bukan sebuah kesombongan, tapi sekedar motivasi agar yang lain bisa mengikuti.

“Hei sobat, Jangan eidelweis yang kau bawa turun gunung, tapi minimal bungkus permen atau punting rokokmumu sendiri masukkan ke dalam saku celanamu”.

Sesekali terlihat burung-burung melompat diantara dahan pohon. Burung yang sama, yang biasa ku lihat di Gunung Lawu. Seolah mengucapkan selamat jalan kepadaku. Kali ini, dia melompat dan terbang-turun-terbang lagi dalam jalur pulang yang aku lalui. Mereka tampak hendak menunjukkan arah. akupun ucapkan terima kasih. Kita benar-benar tak pernah sendirian.

Titik-titik air mulai turun membasahi dedaunan, Jalur turun perlahan mulai tertutup kabut. Langit pun sudah mulai gelap. Aku dan yang tersisa dibelakang terus berjalan. Di pos satu kami berpisah, karena sebagian besar anggota tim rehat disini. Aku dan mas Iful ingin segera tiba di Ranu Pani, kami terus melangkah. Hutan kemudian berganti dengan area perkebunan, jalanan setapak kemudian berganti jalan beraspal. Satu dua tikungan lagi, Ranu Pane sudah menunggu.

menunggu Jip di Ranu Pani
Disinilah akhir sebuah cerita indah, tentang mengejar Mimpi, Perjalanan menembus batas, dan sebuah Persahabatan yang terukir indah dalam kebersamaan, dalam kerasnya medan Mahameru, dalam kebekuan Arcopodo, dalam kesejukan dan kesegaran Ranukumbolo. 

Dan catatan ini akan terus ku simpan, hingga satu saat nanti akan ku ceritakan pada istri dan anak-anak ku bahwa suaminya, ayahnya pernah bersama mewujudkan mimpi bersama sahabat dari Summit Traveller menuju salah satu kepingan surga yang dianugerahkan Allah di bumi Khatulistiwa ini.

Thanks for: Adi Rosadi, Neng Sofi, Ayi, Karla, Nitha, Rina, Yunita, Middi, Om Rey,
Mas Iful, Bang Yudha dkk, Mas Wildan, dan Seorang yang udah ngasih air di Arcopodo
Dan satu lagu NUSANTARA akan kulantunkan untuk menutup catatan perjalanku ini

NUSANTARA
Kuharap kau tidak akan cemburu melihat hidupku
Hidupku bebas selalu kawanku tiada yang memburu
Di Nusantara yang indah rumahku kamu harus tau
Tanah permata tak kenal kecewa di khatulistiwa

Hutannya lebat seperti rambutku
Gunungnya tinggi seperti hatiku
Lautnya luas seperti Jiwaku
Alamnya ramah seperti senyumku
Tanahnya subur seperti tubuhku

Unggasnya bebas seperti hidupku



29 comments:

  1. wisuda di puncak mahameru ... lucu lucu!
    visualnya bagus. jadi berasa.
    ah. kelar juga baca ceritanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih udah mengikuti episodenya,,ini kayaknya paling panjang deh,hehe :p
      jd bosen ya yg baca..

      Delete
  2. Waahhh... kebayang kepuasan dan kebanggaan saat berada di puncak Mahameru. Keren mas. Selamat ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sungguh luar biasa indahnya alam ciptaan Allah ini :)
      bahagia saat bisa sampe puncak :)

      Delete
  3. Super banget reportasenya, ikut seneng bacanya, karna sumpah saya sendiri pengen banget kesana, apalagi Ranu Kumbolo hoaaaaaa ><
    amazing banget, semoga bisa kesana, pasti suatu saat. hehe
    Ijin share ya? keren ini ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiien pasti satu saat akan menjadi kenyataan,,asal jangan pernah menyerah..:)

      Delete
  4. kangen muncak lagi.... tar ahh kapan2 tamasya lagi kesana kwkwkw...

    ReplyDelete
    Replies
    1. jiaah ke semeru itu "perjalanan hati" bukan tamasya,,gak tau bgmna nanti klo semua orang pengen tamasya kesana..

      eh cha, aku kemaren smpet mimpi,,masa bisa ke ranu kumbolo naik motor,,gak kebayang satu saat nanti klo beneran bisa,,udah kaya ancol kali ya,hehe :p

      Delete
  5. bacanya, merinding dan kepingin nangis #padahaludah

    aiih.. semakin bersemangat karena ada yang pakai rok juga ke puncak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pit, saat baca ada rasa yang bercampur-campur. Ikut berasa lelahnya, ikut cemas, ikut bahagia, ikut terharu,ikut-ikutan semua rasa yang dirasakan sama kak rizki dalam perjalanannya ini :D (y) Kerenlah pokoknya kak, dirimu jago membawa saya larut dalam ceritamu sampai episode terakhir ini. Selamat atas tercapainya mimpi, teruslah bermimpi, kan :D

      Delete
    2. hadeuh makasih yaa..
      emang perjalanannya gak mudah, dan gek se simpel yg di film..perjuangan extra dan kekuatan hati paling utama :)))

      aku doain satu saat bisa kesana..
      oia kmren emang ada kok yg pake rok namanya neng SOfi dan sampe puncak lho..:))

      Delete
    3. Putri: Makanya, put. yuk kita ke sana.. kita nikmati bentuk nyata tulisan ini #semangat

      aamiin kak.. semoga kami bisa ke sana.. aamiin #pakehati

      Delete
  6. kereeen ..
    Pengen bgt bgt bgt ke mahameru.
    Tapi kapan?? Masih "ingusan" -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. kemeren sampai jalur pasir mahameru ketemu anak kecil umur sekitar 11 tahun udah bisa ndaki sampe mahameru,,jd gak ada kata "igusan" asal semanya di[ersiakan dengan matang..gak asal ndaki :)

      Delete
    2. 11 tahunan?? :O Hmm.. Keren.
      Alasan utamanya cuma JAUHnya itu loh dari kota saya -_- Dan izin dari ortu yg paling susah -_-

      Delete
    3. iyaa umur 11th sama ayahnya ke mahameru..
      wah kalau urusannya udah sama izin orang tua itu beda lg..
      kalau mau pergi harus selalu dapat ijin ya :))
      ko ortu gak ngijinin jangan maksa buat jalan :))

      Delete
  7. kereeenn pengalamannya. Yg cuma liat fotonya aja speechless liat pemandangan di ketinggian gitu apalagi yg ngerasain langsung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaa yg ngerasaainlangsung udah gak bisa bilang apa2 lagi kecuali ucapsyukur sama Allah SWT :))

      Delete
  8. Wah, keren bgt bisa wisuda di puncak Mahameru. Saya kagum melihat para pendaki yang bisa sampai puncak, krna saya sendiri blm pernah naik gunung.

    Eh, eh tapi saya jual tenda dan sepatu north face lho! *lho kok jadi jualan* piss.

    Wah, jgn2 ketemu temenku si anggota trashbag. Hehe.

    Makasih kunjungannya dan selamat mencoba pendaftaran cpns ya. Good luck ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah kok jualan alat kakak,hehe :p
      wah klo sekelas TNF belum ada dananya kakak,hehe

      iyaa bulan ini ,u;ai pendaftaran,,mohon doanya :)

      Delete
  9. Mampur lagi mas... Masih terkagum-kagum sama keAgungan ciptaan Allah. Indahnyaaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu bru sebagian kecil di pulau jawa belun di daerah lain di Indonesia..
      betul kalau ada yg membuat kiasan bahwa Allah menciptakan bumi Indonesa dengan tersenyum :)

      Delete
  10. subhanallah, dari sekuel postingannya yang ini beneran kerasa, beneran bisa ikut ngerasain sensasinya. hebat mas Rizki bisa sampai sana, ya :))
    pengen banget suatu saat bisa menjejakkan kaki di sana, yang sulit justru izin orang tua, cuman karena aku perempuan :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenernya bagamana kita saja meyakiankan akan apa semua yg akan kita lakukan,,insyaAllah orang tua bisa mengerti,,tp klo tetep gak dapet restu ya mau bgmna lg,kita harus nurut..
      aku jg sering kok gak dapet ijin..:)

      Delete
  11. hihi kalau naik gunung gitu mah asyik yaa bayangin ajah bisa gag yaa niar naik sono, eeh emang naik gunung jaket nya kayak gitu yaa, :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiieen...pasti saru saat nanti bisa kesana :)
      emang jaketnya kenapa?,itu sengaja aku dobel soalnya adeem bangeet :p

      Delete
  12. selalu terharu dan suka denger perjuangan seseorang menuju puncak :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan selalu ada mimpi yg terwujud disana :))

      Delete
  13. boleh saja kerinci dan rinjani lebih tinggi dari semeru, tapi semua yg bisa muncak di kerinci dan rinjani belum tentu bisa sampe ke mahameru....setiap orang yg menapakkan kaki ke mahameru gak akan bisa menahan air matanya yg jatuh....keren banget pengalamannya sob.....

    ReplyDelete

Alangkah lebih bijaksana untuk menyambung silaturahim dipersilahkan meninggalkan jejak berupa komentar,,,terimakasih..^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sahabat EPICENTRUM