HeadLine

Monday, 31 December 2012

URBAN LEGEND #03: SARAH

SARAH

Aku selalu ingin punya adik kecil. Aku anak tunggal, jadi aku selalu sendirian di rumah. Karena itu, saat kedua orang tuaku pulang dan membawa Sarah, aku sangat gembira. Dia sangat lucu! Aku tak sabar ingin segera bermain bersamanya. 

Pada hari2 pertama, ia selalu tidur di kamar orang tuaku. Ia selalu menangis. Kadang kami tak bisa tidur semalaman karena tangisannya. Ayahku lalu membuatkan kamar untuknya di basement. Ia membuatkan tempat tidur dengan kerangkeng, agar ia tidak jatuh atau merangkak keluar dari tempat tidur. Kadang2 aku turun ke basement untuk melihat keadaannya. Ia berbaring di sana dengan matanya yang lebar, menatap langit2. 

Orang tuaku mengingatkan untuk tidak memberikan benda yang tajam kepadanya, mereka takut Sarah akan melukai dirinya sendiri. Aku memberikannya beberapa mainanku melalui sela2 jeruji. Namun ia selalu marah dan membantingnya keluar sambil mulai menangis. Kurasa Sarah tak begitu mempedulikan mainan. 

Ketika mulai sekolah, aku merasa berat harus meninggalkan Sarah di rumah. Namun ibu berkata bahwa Sarah belum siap untuk sekolah. Sepulang sekolah, aku selalu menceritakan kepadanya hal2 yang aku pelajari di sekolah. Aku menggambar bersamanya dan bermain dengannya. 

Aku takkan pernah melupakan hari dimana aku pulang dari sekolah dan Sarah tak ada dimanapun. Ranjangnya kosong dan semua pakaiannya lenyap. Ibu hanya duduk di dapur sambiil menghisap rokok. Ia terlihat sangat sedih. Waktu aku menanyakan dimana Sarah, ibu mulai menangis. 

“Dia tak ada lagi.” Tangisnya.
Aku tak mengerti, “Kita harus menemukannya!” jeritku.
Ibu hanya menggeleng, “Sarah sudah meninggal. Ia ada di surga sekarang.” 

Ayah membongkar ranjang yang ia buatkan untuk Sarah. Ia juga membuang semua gambarku yang kubuat bersama Sarah. Orang tuaku tak pernah lagi menyebutkan namanya lagi dan mereka juga menyuruhku melupakannya. Seakan-akan Sarah tak pernah ada. 

Aku bingung dengan kelakuan mereka, namun kupikir ini karena mereka sangat sedih dengan kepergian Sarah, sama sepertiku. 

Hingga suatu hari, ibu membawaku berbelanja. Saat mengantri di kasir, aku melihat sebuah poster di dinding.
Di sana terdapat wajah Sarah. Aku takkan pernah melupakan wajah lucunya.
Di bawah fotonya, terdapat tulisan. Akupun membacanya. 

“Hilang. Sarah Wenfield. Umur 16 tahun. Diculik dari rumahnya pada 2011. Jika anda mengetahui keberadaannya, harap laporkan segera pada polisi.”

No comments:

Post a Comment

Alangkah lebih bijaksana untuk menyambung silaturahim dipersilahkan meninggalkan jejak berupa komentar,,,terimakasih..^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sahabat EPICENTRUM